Itik Mojosari merupakan itik lokal yang berasal dari Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang memiliki tingkat produktivitas cukup tinggi (Supriyadi, 2014). Karakteristik yang dimiliki itik Mojosari, antara lain bentuk tubuh hampir sama dengan itik Indian Runner lainnya yaitu seperti botol dan berdiri tegak tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil, warna kerabang telur putih kehijauan, warna bulu antara itik betina dan jantan sama yaitu bewarna kemerahan dengan variasi cokelat, hitam dan putih, namun ekor yang melengkung ke atas (Suharno, 2003).
Itik Mojosari memiliki postur tubuh yang lebih kecil 5 dibandingkan dengan itik petelur lainnya, namun menghasilkan telur yang relatif lebih besar (Suharno, 2002). Terdapat dua jenis itik Mojosari yaitu itik Mojosari cokelat dan itik Mojosari putih. Produktivitas bertelur itik ini cukup tinggi yaitu 270 butir per ekor pertahun. Itik Mojosari cokelat dan putih dengan bobot badan dewasa dapat mencapai 1,7 kg.
Cara untuk membedakan itik Mojosari jantan dengan betina yaitu itik jantan memiliki 1 – 2 helai bulu ekor yang melengkung keatas serta warna paruh dan kakinya lebih hitam dibandingkan itik Mojosari betina (Wakhid, 2013). Bulu pada betina berwarna cokelat tua kemerahan dengan beberapa variasi yang tanpak diseluruh tubuh, sedangkan pada jantan bulu pada bagian kepala, leher dan dada berwarna cokelat gelap mendekati hitam, bagian perutnya agak keputih-putihan dan pada bagian punggung cokelat tua (Supriyadi, 2009).
Itik Mojosari
Bobot badan dewasa itik Mojosari rata-rata 1,7 kg, berat telur sekitar 60 – 65 gram dan salah satu keunggulan dari itik Mojosari yaitu masa produksinya lebih lama (Prasetyo dan Susanti, 2006). Itik bertelur pertama kali pada umur sekitar 6 – 7 bulan tetapi produksi telurnya belum stabil, kestabilan produksi telur baru akan tercapai setelah umurnya lebih dari 7 bulan, setelah umur 7 bulan produksinya mulai stabil dan banyak (Danang dkk., 2012).
Menurut Susilorini (2010) itik adalah jenis unggas air yang secara ilmiah itik dikelompokkan dalam kelas dan susunan taksonomi berikut ini:
Kelas : Aves
Ordo :Anseriformes
Family : Anatidae
Genus : Anas
Spesies : Anasplatyhyncos
Itik petelur jenis itik Mojosari pertama kali bertelur pada umur 25 minggu serta memiliki masa produksi lebih lama, bisa sampai 3 peroide masa produktif (Supriyadi, 2014).
Itik Mojosari
Adapun Deskripsi rumpun itik mojosari menurut
KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2837/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN ITIK MOJOSARI
Deskripsi Rumpun Itik Mojosari sebagaimana dimaksud dalam diktum sebagai berikut:
Nama rumpun : Itik Mojosari.
Asal usul : Persilangan antara itik Jawa yang berasal dari Jawa dengan itik liar/mallard di Desa Modopuro,Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
Wilayah sebaran asli Geografis : Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
Wilayah sebaran : Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
perut sampai paha : Jantan, abu-abu keputihan. Betina, cokelat bergaris hitam.
ekor : Jantan, hitam. Betina, cokelat.
kaki : Hitam.
paruh : Hitam.
kerabang telur : Hijau kebiruan.
b. sifat kuantitatif (dewasa)
bobot badan : Jantan dan betina 1,6-1,7 kg.
produksi telur : 200-220 butir/tahun.
puncak produksi telur : 90-95%.
bobot telur : 65-70 gram.
konsumsi ransum : 140-160 gram/ekor/hari.
c. sifat reproduksi
umur mulai produksi : 22-24 minggu.
lama produksi telur : 3 tahun.
Pakan
Ransum merupakan campuran dari satu atau lebih bahan pakan yang diberikan pada ternak yang telah disusun untuk memenuhi kebutuhan zat – zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan proses metabolisme lain didalam tubuh dalam waktu 1×24 jam (Suprijatna dkk., 2005). Pemberian pakan pada fase layer yaitu sebesar 140 – 150 g/ekor/hari (Supriyadi, 2014). Kandungan dalam ransum meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Protein befungsi sebagai zat penyusun dasar semua jaringan tubuh serta bahan pembuat telur dan sperma. Lemak berfungsi sebagai penyerapan vitamin (A, D, E, K), menyediakan asam lemak esensial, berpengaruh penting dalam penyerapan kalsium dan menambah efisiensi penggunaan energi. Vitamin berfungsi sebagai pembantu (katalis) dalam proses pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka (tulang) tubuh, membantu pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk pembentukan kerabang (kulit) telur (Listiyowati dan Roospitasari, 2009).
Ransum itik pada umumnya tidak berbeda dengan ransum ayam, hanya terdapat sedikit perbedaan yang terletak pada persentase kadar protein dalam ransum untuk itik lebih banyak (Wahju, 2004). Ransum merupakan pencampuran 5 bahan pakan yang telah disusun sesuai persyaratan agar ternak dapat berproduksi dengan opimal serta mempertimbangkan kebutuhan nutrisi ternak baik kebutuhan protein, serat maupun zat makanan lainnya (Suci, 2013). Komposisi pakan memiliki pengaruh sangat besar dalam pembentukan lemak dalam tubuh ternak (Zarehdaran dkk.,2004)
Protein
Protein dalam pakan merupakan unsur terpenting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan efisiensi pakan dalam unggas, sumber protein didalam ransum unggas dapat terpenuhi dari protein hewani (tepung ikan) dan protein nabati yaitu bungkil kedelai (Suci, 2013). Unggas yang tidak mendapat asupan protein pertumbuhannya akan lambat dan tidak bisa bertambah besar, karena sumber protein berfungsi untuk memicu pertumbuhan serta dibutuhkan dalam produktivitasnya (Ketaren, 2010).
Protein dalam ransum yang dikonsumsi unggas akan dicerna oleh enzim pepsin di dalam proventrikulus dan gizzard, dan enzim proteolitik (tripsin dan chimotripsin) di dalam usus halus yang menghasilkan peptida dan asam amino, kemudian peptida dan asam amino tersebut akan diserap oleh mukosa usus halus unggas (Scott dkk., 1982). Protein merupakan suatu komponen yang paling banyak diperlukan untuk tubuh dalam pembentukan jaringan (Anggorodi, 1990).
Energi Metabolis (EM)
Energi metabolis merupakan suatu energi didalam makanan yang tersedia bagi ternak untuk metabolisme pokok hidup, proses pertumbuhan dan produksi telur bagi itik petelur (Haryono dan Ujianto, 2000). Kebutuhan energi pakan merupakan faktor penting yang mempengaruhi konsumsi ransum itik, karena energi dan protein ransum disusun secara iso yang menyebabkan konsumsi protein masing – masing perlakuan sama (Mahfudz, 2006).
Lemak
Lemak merupakan sumber energi tinggi yang terkandung dalam pakan unggas dan hampir 40% kandungan bahan kering telur tersusun atas lemak tetapi kandungan lemak harus dibatasi sekitar 2 – 5% (Sulistyoningsih, 2015). Lemak sering dicampurkan dalam pakan unggas yang digunakan untuk meningkatkan kandungan energi pakan (Suprijatna dkk., 2005). Kandungan lemak pakan dapat mempengaruhi kandungan lemak di dalam kuning telur (Bell dan Weaver, 2002). Lemak pakan yang dicerna di usus oleh enzim pankreas dan diemulsikan oleh garam – garam empedu menjadi micelle. Micelle diserap tubuh sebagai sumber tenaga bahan dasar pembentukan lemak dan kolesterol yang kemudian di deposisikan pada bagian organ tubuh tertentu seperti dalam proses pembentukan telur (Witariadi dkk., 2014).
Serat Kasar
Serat kasar merupakan salah satu zat makanan penting dalam pakan itik, karena berfungsi merangsang gerak peristaltik saluran pencernaan sehingga dalam proses pencernaa zat – zat makanan berjalan dengan baik (Sutrisna, 2012). Itik dapat memanfaatkan bahan pakan berserat kasar tinggi dalam ransum sampai 14% (Sutrisna, 2012). Kadar SK yang terlalu tinggi, pencernaan nutrien akan semakin lama dan nilai energi produktifnya semakin rendah (Tillman dkk., 1991). Pencernaan serat kasar di unggas terjadi pada sekum dengan bantuan mikroorganisme yang disebabkan unggas tidak memiliki enzim selulase yang dapat memecah serat kasar (Wahju, 2004). Pencernaan serat kasar yang terjadi di dalam sekum pada unggas mencapai 20 – 30% (Suprijatna., 2005).
Kalsium (Ca) dan Fosfor (P)
Mineral dibagi menjadi 2 kelompok yaitu mineral makro dan mikro, tetapi yang dibutuhkan di dalam pakan dalam jumlah relatif banyak yaitu makro yang terdiri dari kalsium dan fosfor (NRC, 1994). Mineral merupakan zat gizi yang terdapat di dalam pakan yang dibutuhkan ternak untuk pertumbuhan tulang, pembentukan telur, keseimbangan dalam sel tubuh, fertilitas dan daya tetas telur (Ketaren, 2010).
Mineral yang penting dihitung di dalam pakan adalah kalsium dan fosfor, bahan pakan yang mengandung mineral akan dicerna di dalam saluran pencernaan unggas menjadi ion mineral yang kemudian dapat diserap ke dalam tubuh unggas (Ketaren, 2010). Kalsium yang dikonsumsi dan diserap oleh usus halus kemudian masuk ke dalam darah dan ditransportasikan ke jaringan tulang dan daging dalam bentuk ion bebas, terikat dengan protein dan ion yang tidak dapat larut (Siahaan dkk., 2014). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ternak antara lain faktor nutrisional yang meliputi protein, vitamin, mineral dan kalsium (Wahju, 2004).
Asam Amino
Asam amino di dalam protein pakan dibutuhkan ternak unggas untuk pembentukan sel, mengganti sel mati, membentuk jaringan tubuh seperti daging, telur, kulit embrio dan bulu (Ketaren, 2010). Sintesis protein jaringan tubuh dan telur memerlukan asam amino esensial, seringkali asam amino esensial yang sulit terpenuhi kandungannya di dalam pakan seperti Sistin, Listin dan Triptofan disebut sebagai asam amino kritis (Suprijatna dkk., 2005). Asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh ternak dan harus disediakan oleh pakan ternak disebut asam amino esensial yaitu meliputi arginin, glisin, histidin, leusin, isoleusin, lisin, metionin, sistin, tirosin, treonin, fenilalanin, triptofan dan valin. Asam amino non esensial yaitu tirosin, sistin, hidroksilin (Sultoni dkk., 2006). Penyerapan asam amino esensial di dalam hati akan dipengaruhi oleh estrogen yang akan dibentuk menjadi protein yang selanjutnya akan digunakan untuk pembentukan protein kuning telur (Latifa, 2007).
Kecukupan gizi yang di uraikan di atas dapat di penuhi dari berbagai campuran bahan pakan. Penggunaan bahan pakan lokal yang murah, tidak bersaing dengan manusia dan bermutu baik sangat disarankan agar usaha beternak itik dapat menguntungkan.Bahan pakan lokal yang dapat digunakan untuk makanan, itik dapat dibagi menurut sumber nutrisi yang terkandung di dalamnya. Bahan pakan sumber energi misalnya dedak padi (bekatul), jagung, sagu, sorghum (cantel), singkong, bungkil kelapa, dan molases.
Bahan pakan sumber protein ialah tepung ikan, bekicot, keong mas,kepala udang. Bahan pakan sumber mineral antara lain kapur, bekicot, kerang laut dan garam dapur. Sumber vitamin yang murah enceng gondok, dan cacing tanah dapat dimanfaatkan untuk itik. Dedak atau bekatul merupakan salah satu bahan pakan itik yang tersedia berlimpah didaerah-daerah pedesaan. Singkong, bekicot dan kepala udang merupakan contoh bahan pakan yang kaya akan gizi.
Masyarakat Mojosari terbiasa membuat sendiri pakan bebek mereka. Kita boleh juga mencontoh cara pembuatan pakan bebek Mojosari kalau ingin membudidayakan jenis bebek peking. Bahan pakan yang dipakai adalah bekatul, tepung jagung, dedak, dan kupang (sejenis keong sawah terdapat di Mojosari). Bahan pakan tersebutlah yang digunakan oleh masyarakat disana.
Cara membuat pakan yaitu dengan mencampur semua bahan hingga merata dan diberi tambahan konsentrat pabrik perbandingan 1 : 3. Dengan keterangan sebagai berikut 1 kg untuk konsentrat dan 3 kg bahan pakan campuran. Dari bahan tersebut dihasilkan sumber pakan bebek peking kadar protein mencapai 20%.Pemberian pakan rutin sehari 2 kali yaitu pada pagi dan sore hari.
Dengan cara perawatan dan pemberian pakan demikian, bebek mendapat protein yang baik, pertumbuhan bebek bisa lebih cepat umur 40 hari berat bebek di Mojosari sudah mencapai 1,5 sampai 2 kg. Panen juga bisa lebih cepat umur 60 hari atau 2 bulan bebek di Mojosari sudah siap panen berat rata rata 3 kg per ekor.
Perkandangan
Lokasi dan lingkungan perkandangan hendaknya terlebih dahulu ditentukan dalam sebelum membuka usaha peternakan. Lokasi yang dipilih dekat pasar, pabrik gilingan padi, jauh dari kebisingan seperti di pegunungan, terlindung pepohonan, dan bambu. Jadi, tempat yang bagus untuk memelihara itik di tempat yang cukup jauh dari suara gaduh dan kendaraan. Selain itu, kandang sebaiknya tidak terlalu dekat dengan tanaman sawah dan pemukiman penduduk.
Syarat Kandang
Kandang untuk pembesaran menampung 100 ekor bebek umur lebih dari 2 minggu cukup dengan ukuran 4 x 4 meter. Kalau lebih besar juga tidak apa-apa.
Kandang untuk DOD (day old duck) umur kurang dari 2 minggu, dapat menggunakan kandang kawat ram ukuran 5 x 1 meter dan dilengkapi pemanas buatan.
Perlu mendapat perhatian khusus perawatan ektra pada DOD usia kurang dari 1 bulan karena resiko kematian tinggi pada masa tersebut yaitu mencapai 10-20%. Setelah bebek usia lebih dari 1 bulan, resiko kematian berkurang jadi 1% saja. Jadi berhati hatilah pada usia dibawah 1 bulan.
Berdasarkan bentuk atapnya, dikenal beberapa bentuk kandang sebagai berikut:
1. Shed Type (tipe satu sisi)
Arah kandang bagian depan menghadap ke timur. Separuh dinding bagian depan dan belakang, yaitu dinding bagian bawah, tertutup rapat. dinding bagian atas berupa alas yang terbuat dari kawat atau bambu. dinding sisi kiri maupun kanan tertutup rapat, kecuali tangga dan pintu di salah satu sisi. Tipe ini rnemungkinkan masuknya sinar matahari secara langsung sehingga akan mengurangi bau amoniak dalam kandang. Tipe Shade ini cocok untuk daerah yang tanah kering.
2. Gable Type (atap dua sisi)
Arah kandang vertikal dari utara ke selatan. Bagian bawah dinding kandang dibuat rapat, sementara bagian atasnya berupa kisi-kisi. Dua sisi dinding yang lain tertutup rapat, kecuali pintu yang berada di salah satu sisi. Tipe ini adalah tipe atap yang cocok untuk kandang itik di daerah bertanah basah dan kelembaban tinggi.
Berdasarkan fungsinya kandang di bagi menjadi beberapa tipe sebagai berikut :
1. Kandang Boks (Kandang DOD, Fase Starter)
Anak-anak itik yang berumur 1 hari – 3 minggu dapat ditempatkan di kandang yang berbentuk boks. Kandang jenis ini terbuat dari papan atau bambu dengan lantai dari kawat kasa (ram ayam) atau dari anyaman bambu dengan jarak anyaman 1-1,5 cm. Dengan jarak sebesar itu, kotoran itik dapat langsung jatuh tanpa membuat kaki itik terperosok. Setiap 1 m2 kandang boks mampu menampung 50 ekor DOD. Arah kandang sebaiknya tepat dari utara ke selatan, sedangkan atapnya miring dengan bagian timur lebih tinggi dibanding bagian barat.
2. Kandang Ren
Kandang ren adalah kandang yang sebagian diberi atap, sebagian lagi dibiarkan terbuka dan hanya dibatasi pagar keliling. Bentuk kandang ini sebaiknya untuk pemeliharaan itik dara dan dewasa. Ruang yang tertutup atap dengan ruang yang terbuka perlu diberi pagar pemisah dan pintu yang dapat di buka serta di tutup. Di dalam bagian beratap, kandang biasanya di sekat-sekat untuk membagi itik berdasarkan kelompok umur. Satu kelompok dapat terdiri dari 100-500 ekor.
Bagian kandang yang beratap di pakai untuk tidur dan bertelur. Itulah sebabnya, pada pembuatan kandang itik, lantai kandang perlu diberi alas sekam, jerami, atau bahan lain yang empuk, tidak mudah padat, hangat, dan dapat mencegah telur pecah.
Bagian kandang yang terbuka merupakan tempat untuk makan, minum. Lantai bagian kandang ini dapat berubah tanah biasa, anyaman bambu, hamparan batu-batu kecil, atau lebih baik berupa plesteran semen. Pada prinsipnya, lantai kandang di bagian kandang yang terbuka harus selalu diupayakan agar tidak becek, mudah dibersihkan dan cepat kering setelah di cuci. Kandang ren mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya mudah di bersihkan serta membuat itik sehat dan berbadan kuat karena itik dapat berjalan-jalan dan terkena sinar matahari. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diingat, yaitu apabila hujan turun, peternak itik harus segera menggiring itik kekandang yang beratap.
3. Kandang Koloni Postal
Kandang jenis ini seluruh bagiannya tertutup rapat dan tak ada ruangan terbuka yang dapat dipakai itik untuk bermain-main. Kandang koloni ditempati itik dalam kelompok umur yang berbeda. Lantai kandang dapat berupa litter, lantai bersemen, atau dari bilah-bilah -bambu.
4. Kandang Baterai
Kandang baterai merupakan kandang yang di buat dengan sekat-sekat dan setiap petak hanya berisi satu ekor itik. Satu petak 14 kandang berukuran 45 cm x 35 cm dengan tinggi 60 cm. Lantai dan dinding petak dapat dibuat dari anyaman bambu atau kawat. Lantai kandang dibuat sedikit miring agar telur yang baru keluar dari induk itik dapat langsung menggelinding ke tempat penampungan di bagian depan atau belakang.
Secara umum, model kandang baterai mempunyai sejumlah kelebihan sebagai berikut :
Dapat mengurangi suasana bising dari luar kandang. Dalam, suasana yang tenang itik dapat berproduksi lebih tinggi.
Sifat masing-masing itik dapat dikontrol dengan mudah.
Telur yang dihasilkan bersih dan terjamin keutuhannya.
Penyakit mudah dilihat dan penularan penyakit antar itik dapat sedikit dicegah.
Di lain sisi, ada beberapa kelemahan dari penggunaan kandang baterai yaitu sebagai berikut :
Biaya untuk membuat kandang lebih besar dibandingkan dengan model kandang lain.
Perawatan itik harus betul-betul dilakukan secara intensif. Selain itu jumlah serta kualitas pakan yang diberikan pada itik harus. benar-benar terjamin.
5. Kandang itik dengan kolam ikan (Mina Itik)
Seperti kandang ayam, kandang itik dapat juga dibuat di atas kolam. Inilah yang dikenal dengan usaha mina itik. Peternak tertarik untuk menerapkan model ini karna ikan yang berada di kolam dapat memanfaatkan sisa makanan dan kotoran itik yang jatuh untuk menambah sumber makanannya.
Di Kalimantan Selatan, khususnya di daerah Hulu Sungai Utara, para peternak itik intensif sudah biasa membuat kandang di atas perairan, tetapi ikan masih berupa ikan liar. Tentu akan Iebih baik bila ikan yang dipelihara di kolam adalah ikan gurame, lele, ikan mas, mujair, nila, gabus, patin.
Kandang Yang Ideal
Kandang yang diarahkan ke timur dengan maksud untuk memberikan kesempatan sinar matahari pagi masuk kedalam kandang, dengan demikian diharapkan ruangan kandang menjadi sehat dan cukup terang. Tinggi kandang dibuat tidak kurang dari 2 meter, sehingga peternak tidak perlu membunkukkan badan pada saat melakukan pekerjaan di dalam kandang. Dingding kandang sebaiknya ditutup tembok/bambu setinggi 60 cm dari lantai. Sedangkan sisanya dibiarkan terbuka cukup ditutup dengan kawat atau bilah-bilah bamboo.
Hal lain yang menjadi penentu ideal tidaknya kandang yang kita dirikan yaitu luasan kandang yang serta daya tampungnya. Sebagai patokan tiap satu meter persegi kandang bisa didiami dengan 4 ekor itik dewasa (umur > 6 bulan) dengan rumus sebagai berikut:
Luas kandang yang diperlukan (M2) = Jumlah Itik yang dipelihara/4
Atau
Jumlah itik yang dipelihara = Panjang kandang (m) x lebar (m) x 4
Perkawinan
Membibitkan itik Mojosari sendiri tentu tidak mudah dijalankan oleh mereka yang sebelumnya tidak pernah beternak itik. Karena itu, membibitkan itik petelur biasanya dilakukan oleh mereka yang telah berpengalaman beternak itik. Bahkan, pembibitan itik petelur sudah menjadi segmen usaha tersendiri karena prospek usahanya sudah sangat jelas. Lamanya waktu hingga itik berproduksi jika membibitkan sendiri membuat banyak peternak itik petelur tidak melakukan pembibitan itik. Pembibitan itik petelur biasanya dijalankan oleh mereka yang fokus pada usaha pembibitan itik.
Itik Mojosari merupakan persilangan antara itik Jawa yang berasal dari Jawa dengan itik liar/mallard di Desa Modopuro,Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Sekarang untuk mengawinkan agar mendapatkan anak itik mojosari maka dilakukan perkawinan sesama itik mojosari. biasanya rasio jantan dan betina yang efektif yaitu 1 : 4.
DOD Itik Mojosari
Telur tetas adalah telur yang berasal dari induk itik yang sudah terbuahi.
Ciri telur tetas yang baik :
Telur tidak terlalu bulat atau lonjong.
Kulit telur tidak terlalu tebal atau tipis.
Berat rata-rata 65 gr/ekor.
Bila dilakukan peneropongan, terdapat bulatan hitam sebesar biji kopi.
Produk
Panen
Hasil utama usaha ternak itik petelur adalah telur itik dan hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanaman.
Menurut Supriyadi (2002) itik Mojosari mampu menghasilkan telur sebanyak 230-250 butir/ekor/tahun. Kualitas telur yang dihasilkan cukup baik dilihat dari ukuran, warna kuning telur, tebal cangkang dan kekentalan putih telurnya. Berat telurnya rata-rata sekitar 60-65 gram per butir (Prasetyo dkk., 2006).
Telur itik terdiri dari sel reproduktif, dimana sel reproduktif pada itik dikelilingi oleh kuning telur (yolk), albumen, membran kerabang, kerabang dan kutikula. Ovarium bertanggung jawab terhadap pembentukan kuning telur sedangkan bagian telur lainnya berasal dari oviduk. Ovarium yang aktif akan memulai mengahsilkan homon estrogen, progesteron dan testoteron (sex steroid) (Suprijatna dkk., 2005). Kuning telur pertama menjadi dewasa karena Sebagian besar bahan kuning telur yang diproduksi di hati dialirkan oleh darah langsung ke kuning telur dan dibawah kontrol hormon estrogen (Yuwanta, 2010). Yolk tersusun dari lemak dan protein yang bergabung dan membentuk lipoptotein,
Penyusun utama kuning telur adalah asam lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral mikro maupun makro yang terakumulasi sebagai akibat dari proses vitelogeni. Vitelogeni merupakan proses akumulasi asam lemak yang disintesis di hati dengan bantuan hormon estrogen yang kemudian dibawa ke ovarium melalui pembuluh darah (Yuwanta, 2010).
Pasca panen
Kegiatan pasca panen yang biasa di lakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama di banding jika tidak di lakukan pengawetan. Telur yang tidak di berikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk.
Adapun perlakuan pengawetan telur itik terdiri dari 5 macam yaitu :
a. Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
b. Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah di rendam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
c. Pengawetan telur dengan minyak kelapa
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak akan berubah.
d. Pengawetan telur dengan natrium silikat
Bahan pengawet natrium silikat merupakan cairan kental, tidak berwarna, jernih dan tidak berbau. Natrium silikat dapat menutupi pori kulit telur, sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat 10 % selama satu bulan.
e. Pengawetan telur dengan garam dapur
Telur di rendam dalam larutan garam dapur (NaCI) dengan konsentrasi 25-40 % selama 3 minggu. Setelah itu, telur di letakkan di rak telur. Dengan cara pengawetan ini, telur dapat bertahan sampai 8 minggu dan warna kuning telur bertambah pekat (Sandhy, 1998).
Hama dan Penyakit
Secara sederhana, penyebab penyakit di klarifikasikan menjadi dua bagian sebagai berikut :
Penyebab penyakit yang sebenarnya (actual cause) dalam bentuk mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan protozoa.
Penyakit yang di sebabkan oleh prefesiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kuran tepat.
Berikut ini beberapa penyakit yang biasa menyerang itik berikut penanggulangannya :
Pengendalian : sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04 % atau dengan sulfadimidin yang di campur air minum, dosis di sesuaikan dengan label obat. (Muhrizal, 2008).
Daftar Pustaka
Anggorodi. 1979. Ilmu Makanan Ternak umum. P.T. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
BPTP Jakarta, 2001, Keunggulan Itik Mojosari Sebagai Itik Petelur. Jakarta.
IP2TP. 2000. Penyusunan Ransum untuk Itik Petelur, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya.
KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2837/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN ITIK MOJOSARI
Ketaren, P. P. 2001. Mutu pakan ternak. Bebek Mania, Edisi 06 juni 2001. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Ketaren, P.P. dan l.H. Prasetyo. 1999. Pengaruh pemberian pakan terbatas terhadap penampilan itik silang Mojosari X Alabio (MA) umur 8 minggu. Lokakarya Nasional Unggas Air. Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.
Latifa, R. 2007. Upaya Peningkatan Kualitas Telur Itik Afkir dengan Hormon Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin (PMSG). Jurnal 4(1). Universitas Muhammadiyah Malang.
Martawijaya, E. I., E. Maranto dan N. Tinaprilla. 2004. Panduan Beternak Itik Petelur Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Prasetyo, L. H., B. Brahmantiyo dan B. Wibowo. 2003. Produksi telur persilangan itik Mojosari dan Alabio sebagai bibit niaga unggulan itik petelur. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Prasetyo, L., Ketaren, P., dan Setioko, A. 2010. Panduan Budidaya dan Usaha Ternak Itik. Bogor: Balai Penelitian Ternak.
Scott,M.L, Mc.Nesheim and R.J.Young.1982. Nutrition of Chicken. 3rd ed. MC.Scoff and Association. Ithaca.New York..
Suharno, B dan Khairul, A. 2007. Beternak Itik Secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suharno, B. 2010. Beternak Itik Secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya. Suharno, B., dan Setiawan, T. 1999. Beternak Itik Petelur di Kandang Baterei.
Suprijatna, Endjeng, Atmomarsono dan Umiyati. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Sebelumnya kami ucapkan Terimakasih kepada Dosen pengampu dan segenap asisten terkhusus kepada asisten kami yang telah membimbing dalam penulisan blog ini. Blog ini ditulis untuk memenuhi tugas praktikum Manajemen Ternak Unggas 2020.
Prodi S1 Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Kelompok 4 Andes Isya Agastya. H0518008 Dewi mawas pribadi H0518024 Mohammad Ilham D H0518057 Nasichatul Hamimah H0518064 Slamet Prihatin. H0518087
Assisten: Amalia Rizkia
Ayam Broiler
Broiler adalah ayam-ayam muda jantan atau betina yang umumnya dipanen pada umur 5 – 6 minggu dengan tujuan sebagai penghasil daging. Penyebaran ayam broiler cukup luas karena produksi dagingnya dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dan harga yang relatif murah bila dibandingkan dengan daging merah.
Di samping itu, pemeliharaannya tidak memerlukan lahan yang relatif luas. Di samping faktor pendorong tersebut, ada hambatan-hambatan dalam pemeliharaan ayam broiler diantaranya resiko kematian yang tinggi, penggunaan ransum yang kurang efisien, dan kualitas karkas yang dihasilkan rendah. Semua itu tergantung pada tatalaksana pemeliharaan ayam broiler (Suprijatna dan Kartasudjana, 2006).
Ayam broiler merupakan jenis ayam pedaging unggul dan sudah banyak diternakkan di Indonesia. Broiler merupakan ayam yang diciptakanbdari perkawinan silang, seleksi dan rekayasa genetik. Strain broiler di Indonesia ada beberapa macam. Strain yang paling banyak dikembangkan oleh breeder (perusahaan pembibitan) di Indonesia untuk ayam broiler antara lain Cobb, Loghman, Ross dan Hubbard (Tamalluddin, 2012).
Manajemen Pemeliharaan Ayam Broiler
Persiapan Kandang
persiapan kandang sebelum chick in
Faktor yang menentukan keberasilan usaha peternakan ayam broiler adalah kandang intensif. Kandang harus dikondisikan sedemikian rupa agar dapat rasa nyaman pada ayam. Kandang juga harus dibuat untuk melindungi ayam dari pengaruh cuaca (panas, dingin dan angina ) serta dari pengaruh hewan lain dan manusia (Tamalludin, 2012).
Kandang tidak boleh dipengaruhi dari lingkungan luar agar kesehatan dari ternak tidak terganggu, untuk mencapai hal tersebut kandang sebaiknya dibuat berupa kandang Close House agar bisa dapat mengontrol suhu maupun suasana di dalam kandang. Kepadatan awal untuk ayam broiler yaitu 20 ekor / m2. Kepadatan kandang dilebarkan sedikit demi sedikit mengikuti perkembangan ayam dari minggu ke minggu berikutnya. Alas kandang menggunakan system “ litter ” atau lantai bersekam padi. Untuk lebar dan panjang kandang mengikuti jumlah ayam dan luasan pada kandang. Atap kandang dapat dibuat dari seng di lapisikan dengan asbes. Kemudian penopang kandang dari balok kayu dan sisi dinding ditutupi dengan kawat ram. Bagian lantai di terbuat dari bahan semen. Di bagian depan kandang di buat ruangan untuk gudang peralatan, tempat penyimpanan pakan tempat pegawai istirahat dan membuat catatan (Rasyaf, 2008). Sebelum anak ayam tiba maka kandang harus sudah siap. Persiapan kandang DOC untuk ayam broiler tidak berbeda dengan DOC untuk ayam petelur. Begitu pula perlengkapan kandangnya, sampai mencapai pertumbuhan bulu yang sempurna. Penempatan tempat makan dan minum juga sama (Suprijatna dan Kartasudjana, 2006).
Waktu istirahat kandang dalam keadaan bersih minimal 2 minggu agar siklus penyakit diharapkan dapat putus. Adapun tahapan persiapan kandang, yaitu sebagai berikut mengarungkan pupuk; merapikan tempat pakan dan tempat minum; mematikan aliran listrik; mematikan saluran air minum; merapikan peralatan kandang lainnya seperti sekat dan brooder guard; mencuci kandang dengan air kemudian desinfektan; mengapur kandang; mencuci tirai dan alas litter; menaburkan litter dan memasang peralatan; memasang tirai; menyemprot ulang desinfektan; membiarkan kandang tertutup tirai; mencuci peralatan kandang(Santoso dan Sudaryani, 2011).
Ada benerapa hal yang wajib dilakukan yaitu:
1. Pembersihan kandang dan peralatan kandang
pembersihan kandang
Sebelum tiba, kandang harus sudah dibersihkan dengan air bersih yang telah dicampur dengan pembunuh kuman/desinfektan. Kandang kemudian dibiarkan selama beberapa saat dan tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Semua peralatan, termasuk indukan, tempat pakan, dan tempat minum juga harus disterilkan, sementara alas litter disemprot dengan bahan pembunuh kuman/fumigan. Penggunaan fumigan harus sesuai dengan etika dan aturan pakainya dan harus diperhatikan dengan benar karena setiap merek dagang memiliki aturan pakai yang berbeda-beda (Rasyaf, 2012). Sisa-sisa dari ternak yang lama (setelah panen), baik kotoran, sekam, bahan-bahan yang tercecer, sampai tidak ada yang tertinggal, setiap butir sisa dari kawanan ayam yang lama akan ada kemungkinan menularkan penyakit kepada kawanan berikutnya
Pembersih dilakukan dengan air bersih dan bahan pencuci (sabun atau detergen)
Pencucian ini dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan
2. Pengapuran
pengapuran dilakukan dengan kuas
Mengapur kandang, dengan cara kapur diencerkan dengan air, kemudian dioleskan dengan alat kuas pada permukaan kandang, yang meliputi : dinding kandang baik di dalam maupun di luar kandang, lantai kandang, kerangka kandang dan lantai disekitar kendang.
3. Pemasangan brooder dan pemanas brooder
Pemsangan brooder dan pemanas
DOC memerlukan kandang yang bersih dan hangat. Karena DOC ditetaskan dengan mesin tetas dan tidak ada induk ayam yang menghangatkan tubuhnya, penambah pemanas buatan yang bisa berupa bohlam listrik, pemanas gasolek (gas)/pemanas semawar/minyak tanah dan kompor batu bara. Selain itu perlu dibuat guard chick atau brooder guard yang berupa seng supaya anak ayam mengumpul untuk menghemat pemakaian pemanas (Santoso dan Sudaryani, 2011). lingkaran pelindung bisa terbuat dari seng, layar, karung, triplek atau boks bekas DOC.
Indukan atau brooder berbentuk bundar atau persegi empat dengan areal jangkauan sekitar 1 – 3 m dengan alat pemanas di bagian tengah. Alat ini disebut juga “induk buatan” karena fungsinya menyerupai induk ayam, yakni menghangatkan anak ayam ketika baru menetas (Rasyaf, 2012).
Brooder adalah alat pemanas yang merupakan salah satu komponen brooding (induk buatan). Beberapa jenis Brooder (Tamalluddin, 2012), yaitu : a. Semawar/cimawar menggunakan bahan bakar minyak tanah b. Gasolek menggunakan bahan bakar gas c. Tungku batu bara menggunakan batu bara d. Tungku kayu bakar atau serbuk gergaji Alat pemanas sudah banyak dijual di toko-toko unggas. Ada yang memakaisumber energi gas, listrik atau air panas (Rasyaf, 1992). Pemanas DOC diperlukan selama anak ayam belum mampu beradaptasi dengan suhu lingkungan. Pemanas yang dapat digunakan adalah bohlam listrik, pemanas dengan batu bara,dan pemanas dengan gas (Rahayu et al., 2011). Pastikan pemanas brooder sudah terpasang.
4. Termometer
pemasangan thermometer
thermometer dipasang untuk mengontrol panas (disesuaikan dengan suhu nyaman DOC), sebaiknya dilakukan sebelum doc masuk agar dapat menentukan suhu yang optimal.
5. Litter
persiapan litter
Hal-hal yang harus diperhatikan adalah ketebalan, bahan yang digunakan, suhu litter. Menebar sekam, sebelum dimasukkan kedalam kandang sekam sudah disemprot dengan desinfektan lainnya, setelah kering baru dimasukkan.
6. Tirai
pemasangan tirai
Memasangan tirai kandang dilakukan dengan cara menutup semua permukaan dinding kandang
Chick In
1. Pengaturan Cahaya Program pencahayaan pada tahap pertumbuhan awal, yaitu anak ayam yang berumur antara satu sampai tujuh hari digunakan intensitas minimum 20 lux yang diberikan secara terus menerus. Pada tahap pertumbuhan selanjutnya, dilakukan pembatasan intensitas cahaya dan lama pencahayaan antara dua sampai enam jam per hari (Olanrewaju et al, 2006). Cahaya berimplikasi pada perubahan struktur morfologi mata. Cahaya yang sangat rendah ( < 5 lux) dapat menyebabkan retina mata, bupthalmos, myopia, glaucoma, dan kerusakan lensa mata yang berakibat kebutaan.
Pemberian cahaya pada ayam broiler yang umum dilakukan peternak adalah secara terus-menerus (continous lighting) selama 24 jam dengan intensitas yang semakin menurun pada fase akhir. Pencahayaan terus-menerus akan meningkatkan waktu untuk makan, meningkatkan pertambahan bobot badan, dan meningkatkan pembentukan bulu,menurut, tetapi menyebabkan terjadinya gangguan ritme harian (diurnal), kelainan kaki dan tulang, yang mengakibatkan kesulitan pergerakan ayam broiler untuk mendapatkan pakan dan air minum. Tatalaksana penyinaran merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan dari manajemen usaha peternakan unggas, bahkan merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan oleh peternak. Penambahan cahaya pada malam hari dapat meningkatkan produksi puyuh, tetapi penggunaan cahaya yang berlebihan belum tentu menghasilkan keadaan yang menguntungkan, bahkan mungkin dapat merugikan karena akan terjadi pemborosan energi listrik (Triyanto, 2007).
Ayam broiler yang tetap berada pada posisi ritme harian, mampu mengatur pola tingkah laku seperti makan, tidur, bergerak dan istirahat secara normal. Pencahayaan secara bergantian (intermitten lighting) akan mengurangi stres pada ayam broiler dibandingkan dengan ayam broiler yang diberikan cahaya secara terus-menerus yang diukur berdasarkan konsentrasi plasma kortikosteron. Plasma kortikosteron akan meningkat pada ayam broiler yang mengalami stres.
Berikut pengaruh penggunaan program pencahayaan terhadap aktivitas minum ayam.
pengaruh penggunaan program pencahayaan terhadap aktivitas minum ayam
Menurut Amrullah (2003), program penggunaan cahaya secara bergantian untuk ayam broiler menggunakan aturan sebagai berikut : ~Umur 0 – 7 hari : Intensitas cahaya 20.0 lux dengan 23 jam Terang ; 1 jam Gelap ~Umur 8 – 14 hari : Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam Terang ; 8 jam Gelap ~Umur 15 – 21 hari : Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam Terang ; 3 jam G ; 2 jam Terang ; 3 jam Gelap ~Umur 22 – 28 hari : Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam Terang ; 2 jam Gelap ; 4 jam Terang ; 2 jam Gelap ~Umur 29 – 35 hari : Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 16 jam Terang ; 1 jam Gelap ; 6 jam Terang ; 1 jam Gelap ~Umur 36 – 49 hari : Intensitas cahaya 5.0 lux dengan 23 jam Terang ; 1 jam Gelap
jarak dan distribusi lampu di kandang ayam sebenarnya tidak ada ketentuan yang baku. Lampu dapat dipasang di tengah, atau di sisi kiri dan kanan, dengan jarak antar lampu dibuat sama. Sedangkan untuk jarak/ketinggiannya dari lantai, disarankan 2 meter
Untuk perhitungan kebutuhan jumlah lampu per luas kandang, dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
N = Jumlah lampu E = Lux yang diperlukan pada ruangan tersebut A = Luas ruangan dalam meter pesegi F = Lumen yang dikeluarkan sebuah lampu(biasanya tertera pada kemasan lampu) (uf) F-utilisasi : faktor pemanfaatan (0,65) (llf) F-depresi : faktor penyusutan cahaya (0,8)
Pemilihan jenis lampu dalam pemeliharaan ayam petelur, sebaiknya disesuaikan dengan warna lampu yang dibutuhkan. Secara umum, ada 2 jenis lampu yang bisa digunakan untuk kandang ayam petelur di Indonesia, yaitu incandescent lamps dan fluorescent lamps. ~~Incandescent lamps adalah lampu pijar berbentuk bohlam yang menghasilkan cahaya dengan menyalurkan arus listrik melalui filamen yang ada di dalamnya. Lampu jenis ini umumnya berwarna oranye-merah, meskipun ada pula yang berwarna biru-putih. Harganya yang murah menjadikan lampu jenis ini banyak digunakan peternak. Meski demikian, lampu ini termasuk boros energi listrik. ~~Fluorescent lamps atau yang biasa kita kenal dengan istilah lampu neon adalah lampu listrik yang memanfaatkan gas neon dan lapisan fluorescent sebagai pemendar cahaya pada saat dialiri arus listrik. Meski harganya lebih mahal, namun lampu jenis ini mampu menghasilkan cahaya per watt lebih tinggi daripada lampu bohlam biasa (incandescent lamps). Jika peternak ingin menggunakan lampu ini untuk menerangi kandang ayam produksi, sebaiknya pilih lampu neon yang memancarkan warna oranye-merah (bisa disesuaikan dengan spesifikasi yang tertera pada kemasan lampu) (Lewis,2007)
2. Spektrum cahaya Pertumbuhan pada ayam pedaging dipengaruhi oleh spektrum cahaya. Menurut Astuti (2010) cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda mempunyai efek yang bervariasi pada retina mata dan dapat mengakibatkan perubahan pola tingkah laku yang selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ayam Warna hijau mempercepat pertumbuhan otot ayam dan menstimulasi pertumbuhan badan pada usia muda, sedangkan warna biru menstimulasi pertumbuhan badan ayam pada usia yang lebih tua.
Ayam broiler dengan pencahayaan dibawah warna biru atau hijau akan berdampak pada berat ayam secara signifikan dibandingkan dengan ayam broiler dibawah pencahayaan warna merah atau putih. Kemampuan ayam untuk memvisualisasikan warna sama dengan manusia, namun ayam tidak dapat melihat dengan baik ketika mendapat warna cahaya dengan panjang gelombang yang pendek (biru-hijau). Unggas akan sensitif pada panjang gelombang 415, 455, 508, dan 571 nanometer.
3. Pengaturan Pemanas Masa brooding adalah periode pemeliharaan dari DOC (day old chick ) hingga umur 14 hari (atau hingga pemanas tidak digunakan). Baik tidaknya performa ayam di masa selanjutnya seringkali ditentukan dari bagaimana pemeliharaan di masa brooding. Satu hal yang patut diperhatikan oleh peternak ialah kesalahan manajemen pada periode ini seringkali tidak bisa dipulihkan (irreversible) dan berdampak negatif terhadap performa ayam di periode pemeliharaan berikutnya. Tujuan dilakukan brooding adalah untuk menyediakan lingkungan yang nyaman dan sehat secara efisien dan ekonomis bagi anak ayam dan untuk menunjang pertumbuhan secara optimal (Fadilah, 2004)
Pada saat anak ayam berumur 0 sampai 14 hari, akan terjadi perbanyakan sel atau “hyperplasia”. Perbanyakan sel ini meliputi perkembangan saluran pencernaan, perkembangan saluran pernapasan, dan perkembangan sistem kekebalan. Keberhasilan masa brooding ini sangat dipengaruhi oleh suhu, kelembapan, dan kualitas udara dalam kandang. Suhu dan kelembapan kandang yang seragam pada saat masa brooding akan menghasilkan performa broiler yang baik.Pemeliharaan periode brooding adalah 14 hari, dengan pengaturan suhu 30–320 C dankelembapan 60–80% (Setiawan dan Sujana, 2009).
Penggunaan sistem brooding terbagi menjadi dua yaitu sistem brooding konvensional dan sistem brooding thermos. Sistem brooding konvensional merupakan sistem brooding yang menggunakan pembatas berupa lingkaran dari bahan seng didalam kandang dan terdapat satu indukan yang mengatur suhu dan kelembapan serta terdapat tirai penutup dari luar kandang. Kelebihan dari sistem ini adalah lebih terkontrol suhu dan kelembapan dalam area pembatas. Kelemahan dari sistem brooding ini yaitu penggunaan indukan yang kurang efisien, maksudnya setiap satu lingkaran pembatas memerlukan satu buah indukan. Selain itu, penggunaan sumber panas dari gas LPG yang tidak dilakukan sistem biosecurity dengan baik. Hal ini dapat memicu sebagai sumber penyakit bagi broiler.
Sistem brooding thermos merupakan sistem brooding yang menggunakan sumber panas lebih besar dan menyebarkan panas keseluruh ruangan. Sistem ini menggunakan pembatas berupa tirai dari dalam kandang dan luar kandang sehingga suhu dan kelembapan tetap terjamin tanpa ada pengaruh dari lingkungan luar kandang. Berdasarkan uraian di atas, sistem brooding terbaik kemungkinan besar terdapat pada sistem brooding thermos. Hal ini lebih terjaminnya kestabilan suhu dan kelembapan di dalam kandang karena pada sistem thermos terdapat tirai yang menutupi area brooding. Hal ini menyebabkan panas yang dihasilkan dari brooder tidak dapat leluasa berpindah ke luar area brooding, dibandingkan dengan sistem konvensional yang tirainya hanya terdapat di dinding kandang (Rasyaf, 2005)
Pemanas dinyalakan satu hari sebelum DOC datang. Tujuannya agar suhu disekitar lingkungan kandang sudah hangat dan merata. Suhu yang diperlukan untuk DOC diukur menggunakan 2 thermohygrometer yang diletakkan sekitar 5 cm diatas permukaan sekam pada setiap perlakuan terdapat 1 thermohygrometer. Suhu 34 –35 C pada minggu pertama. Menurunkan suhu brooder menjadi 29 — 30 C pada umur 9 hari. Melepas pemanas pada umur 14 hari (Murwarni, 2010).
4. Pemberian Alas Brooder Alas harus diperhatikan supaya tetap kering, jangan sampai dibiarkan basah karena akan menyebabkan bau. Ventilasi yang bertumpu pada terbuka dan menutupnya layar atau tirai harus diatur sesuai dengan kebutuhan anak ayam. Setelah tertutup hampir sangat rapat pada awal masa indukan, pada hari ke-12, layar bagian lantai sudah mulai dibuka sekitar 30 cm. Hal tersebut berguna untuk menambah suplai oksigen dan media belajar bagi anak ayam untuk berjalan diatas lantai. Selain itu, pembukaan layar juga untuk mengeringkan sekam yang barangkali sudah terlalu lembab dan mendinginkan udara yang terlalu panas. Secara berangsur sekam juga harus diturunkan dan pada umur 16 hari tirai lantai sudah bisa dibuka semuanya (Mulyantono dan Isman, 2008)
Litter berfungsi menampung dan menyerap air dari feses sehingga feses cepat kering. Selain itu, juga berfungsi untuk meminimalkan terjadinya lepuh dada dan menjaga kehangatan kandang brooding.
Bahan-bahan yang digunakan sebagai litter sebaiknya mempunyai sifat daya serap air yang baik, tidak berdebu, tidak berjamur, mudah diperoleh dan murah. Beberapa contoh bahan dari limbah pertanian yang bisa digunakan sebagai litter antara lain sekam padi, tongkol jagung, kulit kacang kedelai, kacang hijau atau kacang tanah, jerami padi serta limbah penggergajian kayu. Sebelum digunakan, litter sebaiknya dibersihkan dan didesinfeksi menggunakan Formades untuk meminimalkan kontaminasi bibit penyakit atau jamur. Litter yang sudah didesinfeksi didiamkan selama 2 jam untuk memaksimalkan kontak dengan desinfektan. Setelah itu, litter baru ditabur secara merata ke seluruh kandang dengan ketebalan 5 – 8 cm.
Ketika masa pemeliharaan sudah berjalan, manajemen terkait litter ini harus dilakukan dengan benar. Bersihkan litter dari feses secara rutin. Namun jika feses sudah sangat menumpuk atau kondisi litter sudah sangat basah/lembab, lakukan penambahan litter baru untuk mengurangi timbulnya amonia dari feses. Jangan membalik litter yang sudah banyak menggumpal karena akan memicu naiknya kadar amonia dalam kandang.
5. Pemilihan DOC Bibit ayam (DOC) merupakan singkatan Day Old Chick yang berarti anak ayam yang berumur satu hari. Bibit yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut sehat dan aktif bergerak, tubuh gemuk (bentuk tubuh bulat) bulu bersih dan kelihatan mengkilat, hidung bersih, mata tajam dan bersih serta lubang kotoran (anus) bersih, berat badan 32 g. Kualitas DOC yang dipelihara harus yang terbaik, karena performa yang jelek bukan saja dipengaruhi oleh faktor pemeliharaan tetapi juga oleh kualitas DOC pada saat diterima (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Pakan yang diberikan berupa pakan yang berbentuk crumble semi mess dengan kandungan protein 21-24 %. Pemberian pakan bisa dilakukan dengan cara sedikit demi sedikit. Hal ini bertujuan agar pakan yang diberikan selalu segar dan tidak kotor, dan ayam selalu terangsang untuk selalu makan (Fadilah, 2013 ). Nama alat pemberian penyaluran pakan adalah full feed. Pemberian pakan 2 kali dalam sehari, setiap pagi hari dan sore hari. Pada 4-6 jam pertama sejak DOC masuk ke dalam kandang, air minum dapat dicampur dengan vitamin, antibiotic, atau larutan air gula yang dibuat dengan campuran 60-80 gram air gula dalam 1 liter air. Fungsi pemberian air gula agar bertujuan DOC bisa memperoleh energy yang cepat. Kebutuhan air minum tergantung temperature kandang dan aktivitas ayam (Rasyaf, 2012).
Vaksinasi
Vaksin adalah mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan dan mempunyai sifat imunogenik (immunogenic). Imunogenik artinya dapat merangsang/menstimulasi pembentukan sistem imun atau kekebalan tubuh. Sedangkan Vaksinasi merupakan upaya memasukan bibit penyakit yang telah dilemahkan atau telah mati kedalam tubuh unggas yang sehat untuk memperoleh kekebalan penyakit tertentu.
Vaksinasi merupakan salah satu aspek dalam biosecurity. Antibiotika digunakan untuk memberantas infeksi bakteri. Karena tidak ada obat yang dapat melawan infeksi virus, maka vaksinasi sebelum infeksi terjadi di dalam flok ayam menjadi pilihan utama untuk melindungi ayam. Vaksin virus yang ideal terbuat dari suatu virus yang tidak menimbulkan penyakit, tetapi virus yang sangat tinggi imunogenesitasnya.
Perusahaan vaksin mempunyai kombinasi faktor-faktor yang terbaik terhadap virus yang ada sesuai dengan yang diharapkan. Tidak semua vaksin efektifitasnya sama. Beberapa vaksin memberikan kekebalan yang baik tetapi menimbulkan reaksi setelah diberikan yang lebih berbahaya dari penyakit itu sendiri. Vaksin yang lain, reaksinya tidak terlihat tetapi tingkat perlindungannya sangat rendah.
Tetapi, kehebatan reaksi biasanya tidak berhubungan dengan tingkat kekebalan. Virus yang ideal untuk vaksin adalah yang tidak memberikan reaksi dan mempunyai kekebalan yang tinggi. Beberapa vaksin untuk infeksi bakteri tertentu biasanya kurang efektif dari pada kebanyakan vaksin virus, karena vaksin virus dapat merangsang bagian-bagian kunci dari sistem kekebalan dengan lebih baik.
Vaksin bisa dalam bentuk hidup atau mati. Keduanya memberikan reaksi. Vaksin hidup terdiri atas mikroorganisme hidup. Vaksin ini dapat diberikan pada umur lebih muda daripada vaksin mati, dan diberikan melalui injeksi, air minum, inhalasi, atau tetes mata. Kontaminasi vaksin harus dicegah karena dapat menimbulkan gangguan yang serius.
Mikroagen yang terdapat dalam vaksin hidup akan berkembang di dalam tubuh unggas, dan bila terdapat infeksi sekunder pada saat itu, dapat terjadi reaksi yang hebat. Ketika menggunakan vaksin hidup, peternak harus menyadari bahwa peternakannya mengandung agen penyakit yang berasal dari vaksin.
berbagai vaksin aktif bagi unggas
Semua vaksin mati, yang pemberiannya harus disuntikkan, dapat juga menimbulkan reaksi yang berasal dari zat pembawanya. Reaksi yang paling umum adalah terjadinya pembentukan jendolan pada tempat penyuntikan (granuloma).
Usia unggas pada saat vaksinasi terhadap penyakit tertentu dan kapan perlu diulang merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat, kualitas dan lamanya kekebalan.
Program-program vaksinasi bervariasi pada ayam broiler, ayam petelur komersial, ayam bibit, ayam nenek, ayam kalkun, dan burung. Yang penting diingat adalah vaksinlah sesuai dengan keperluan.
Vaksinasi ayam broiler
1. Vaksinasi melalui air minum
Pemakaian klorin dan desinfektan air minum dihentikan 24 jam sebelum vaksinasi. Ayam dipuasakan 1-2 jam sebelum vaksinasi. Jika suhu lebih dari 30˚C sebaiknya 1 jam saja. Disiapkan air, susu skim, dan vaksin dalam jumlah yang tepat. Jumlah air yang dibutuhkan adalah sejumlah air yang habis diminum ayam selama 1-2 jam.
Ketika jumlah air telah ditentukan, susu skim dengan dosis 2 gram per liter air dimasukkan dalam air minum. Untuk daerah beriklim panas sebaiknya ditambahkan es batu. Susu skim berfungsi sebagai pelindung vaksin dari berinteraksi dengan bahan-bahan dalam air untuk menjaga kualitas vaksin. Untuk daerah dengan kualitas air kurang bagus, disarankan untuk meningkatkan dosis susu skim dan/atau merebus air yang akan digunakan untuk vaksinasi.
Vaksin dicampurkan ke dalam air yang telah disiapkan, aduk hingga rata dan segera tuang ke tempat minum yang telah disediakan. Agar pembagian vaksin merata, harus dihitung jumlah larutan vaksin yang harus dituang di setiap tempat minum (kontrol distribusi vaksin).
2. Vaksinasi Tetes
Proses penetesan ke dalam mata haruslah tepat dan vaksin harus terserap sempurna ke dalam kelopak mata. Jangan terburu-buru melepaskan ayam jika tetesan belum terserap sempurna.
Harus dihindari penjaringan ayam yang terlalu banyak (maksimal 200 ekor sekali jaring), agar ayam tidak stres terlalu lama ketika menunggu divaksin.
Untuk menghindari turunnya efektifitas vaksin, sebaiknya larutan vaksin dibagi kedalam beberapa alat penetes sesuai jumlah vaksinator (setelah dilarutkan, vaksin harus habis dalam waktu 30 menit).
3. Sebelum dilakukan vaksinasi harus dicek dulu fungsi injektor dengan cara dilakukan uji coba dengan air. Jika injektor rusak atau tidak lancar, jangan digunakan. Jika kotor, dicuci dengan air panas.
Vaksin yang keluar dari refrigerator sebaiknya ditunggu beberapa saat sampai suhunya mendekati suhu lingkungan. Dapat juga dilakukan thawing dengan cara vaksin dari refrigerator direndam dalam air biasa agar lebih cepat mencapai suhu lingkungan. Sebelum atau pada saat kegiatan vaksinasi, botol vaksin dikocok sesering mungkin guna menghindari pengendapan komponen vaksin.
Vaksinasi pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah 3 minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan. Dan dijaga agar lantai kandang tetap kering.
vaksin ND La Sota
Pada umur 4 hari, ayam divaksinasi ND. Vaksinasi dilakukan dengan cara tetes mata dan sebelum vaksinasi ayam tidak dipuasakan terlebih dahulu. Vaksinasi dilaksanakan mulai pukul 7 pagi sampai pukul 13 siang. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk 5500 ekor ayam (1,09 cc atau ekor). Vaksin yang digunakan disimpan dalam termos es supaya vaksin selalu dalam keadaan dingin, dengan tujuan agar vaksin tidak cepat rusak.
Cara kerja dalam pemberian vaksin ini yaitu, pertama-tama giring seluruh ayam ke suatu sudut kandang, lalu beri sekat. Kemudian teteskan vaksin pada ayam satu persatu. Simpan ayam yang sudah diberi vaksin di bagian sekat yang kosong. Usahakan vaksin yang digunakan selalu dalam keadaan dingin sampai vaksinasi selesai.
Pada umur 13 hari, ayam divaksinasi Gumboro dengan jenis vaksin aktif. Vaksinasi dilakukan dengan cara oral (dicampurkan dengan air minum). Sebelum vaksinasi dilaksanakan, ayam dipuasakan terlebih dahulu selama ± 2 jam. Vaksinasi dilaksanakan pada pukul 7 pagi. Vaksin yang digunakan sebanyak 6000 dosis untuk 5500 ekor ayam. Vaksin tersebut kemudian dicampur dengan 200 liter air, kemudian diisikan ke dalam galon tempat air minum masing-masing sebanyak 2 liter. Setelah vaksin habis diminum oleh ayam, kemudian galon tersebut diisi dengan air putih biasa.
Pada umur 19 hari, ayam divaksinasi ND 2 dengan jenis vaksin aktif. Dosis dan cara pemberian vaksin sama dengan saat vaksinasi Gumboro.
Dalam vaksinasi, banyak hal yang perlu diperhatikan, antara lain : a. Jenis, dosis, dan waktu pemberian vaksin harus tepat. b. Vaksin belum kadaluwarsa. c. Pastikan ayam yang akan divaksin dalam kondisi sehat (ayam sakit tidak boleh divaksin). d. Jangan melakukan kegiatan vaksinasi saat suhu udara sangat panas (maksimal 29˚C). e. Gunakan wadah yang berbahan dasar plastik, hindari wadah yang terbuat dari logam. f. Air yang digunakan harus baru dan segar, pH 6.5–7.5, bebas klorin dan desinfektan. g. Cuci tempat vaksin dan alat vaksinasi dengan air biasa, tanpa klorin atau desinfektan. h. Vaksinator harus terlatih, tata cara dan prosedur vaksinasi harus diikuti dengan benar. i. Segera berikan suplemen ayam broiler atau multivitamin setelah vaksinasi untuk mengurangi stress.
Cara menyimpan vaksin yang benar : Vaksin harus disimpan dalam refrigerator (lemari es/kulkas) bersuhu 2-8˚C (bukan freezer), terhindar dari panas dan sinar matahari langsung.
Apabila hendak mengangkut vaksin ke tempat yang jauh, vaksin harus ditempatkan dalam wadah yang memiliki daya isolasi cukup baik terhadap suhu luar (misal: termos atau sterofoam box), dengan diberi es batu di dalamnya.
Biosecurity
Biosecurity adalah suatu tindakan untuk menghindari kontak antara hewan dan mikroorganisme dan merupakan pintu pertahanan pertama dalam upaya pengendalian penyebaran suatu penyakit.
Biosecurity dilakukan untuk meminimalkan jumlah bibit penyakit dan mencegah ayam terinfeksi, peternak harus dapat menerapkan biosecurity secara optimal sebagai sistem perlindungan dari luar disamping melakukan vaksinasi. Manajemen pemeliharaan dengan diterapkannya biosecurity secara ketat merupakan perpaduan tepat sebagai kunci sukses pemeliharaan ayam. Biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan pun akan lebih murah dibandingkan dengan biaya pengobatan/penanganan saat sudah terjadinya wabah penyakit.
Hal terpenting dari sistem biosecurity adalah pelaksaannya yang dilakukan secara menyeluruh dan terus-menerus. Biosecurity tidak harus identik dengan biaya yang besar, namun dapat diterapkan sesuai persyaratan dengan biaya yang murah.
Penerapan biosecurity yang paling umum dilakukan peternak adalah sanitasi kandang dengan menyemprot desinfektan. Namun hal ini tidak cukup untuk menekan bibit penyakit di lingkungan peternakan. Pada dasarnya, biosecurity diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk melindungi makhluk hidup dari bibit penyakit. Dalam usaha budidaya ayam, biosecurity sebagai upaya untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit menular ke dalam maupun keluar lingkungan peternakan. Oleh karenanya, penerapan biosecurity harus secara menyeluruh, terus menerus dan dinamis untuk menjaga ayam agar terhindar dari bibit penyakit. Tentunya sistem biosecurity tidak akan berjalan secara efektif tanpa melibatkan masyarakat peternakan seperti pemilik, manager, pekerja atau pegawai kandang serta seluruh pengunjung peternakan.
Biosekurity apabila dipraktekkan, ia akan membantu pemilik peternakan dan lingkungan tetangganya keluar dari berbagai permasalahan. Pengendalian penyakit merupakan bagian dari rasa tanggung jawab terhadap yang lain. Penyakit tidak dapat dikendalikan dan diberantas dengan cara berdiam diri atau memberikan informasi yang salah. Ketika upaya untuk memberantas dan mengendalikan agen penyakit dilakukan, pemilik peternakan harus memanfaatkan peristiwa alam sekitar seperti sinar matahari, panas, kering, hujan, angin dan waktu atau musim. Seringkali pemilik hanya memikirkan kerugian pendapatan ketika kandangnya kosong, padahal mortalitas yang tinggi dan penampilan yang buruk biasanya lebih merugikan lagi bila terburu-buru untuk memasukkan flok ayam baru. Oleh karena itu lebih baik menunggu sedikit lebih lama (sekitar dua minggu lebih) kandang dibiarkan dalam keaadaan istirahat dulu sebelum flok berikutnya masuk.
Berikut beberapa penerapan biosecurity yang dapat dilakukan pada Ayam Broiler
Biosekuriti pada sumber ayam/DOC. Penerapan biosekuriti pada aspek sumber ayam DOC (Day Old Chicken) dimaksudkan untuk mempertahankan kesehatan hewan sebelum kontak dengan hewan lain. Penerapan biosekuriti pada aspek sumber ayam dari masing-masing peternakan hasil penelitian, bahwa terhadap aspek kelengkapan SKKH pada ayam DOC yang dibeli keduanya sama-sama nihil. Hal demikian memang jarang dilakukan oleh perusahaan, namun demikian berdasarkan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) 4868.1 : 2013 (BSN, 2013) tentang bibit niaga (final stock) DOC ayam ras tipe pedaging mensyaratkan standar mutu, cara uji, pengemasan, pelabelan dan pengangkutan bibit niaga DOC ayam ras tipe pedaging. Dengan demikian maka setiap DOC yang dipasarkan wajib dilakukan pengujian persyaratan kualitatif terhadap kondisi fisik, baik terhadap aspek produksi seperti performans atau kondisi eksterior maupun terhadap status kesehatan hewan. Khusus pemeriksaan kesehatan hewan wajib dilakukan oleh dokter hewan yang ditunjuk oleh gubernur bupati/walikota serta menerbitkan SKKH hasil pemeriksaan, sehingga sekalipun dalam tata niaganya tidak dilengkapi dengan SKKH, namun dapat dipastikan bahwa DOC yang dipasarkan tersebut sudah dilakukan pemeriksaan dan SKKH hasil pemeriksaannya bersifat kolektif untuk seluruh DOC yang dipasarkan saat itu.
Penerapan biosekuriti terhadap hewan ternak pengganggu. Penerapan biosekuriti terhadap hewan/ternak penggangu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kontak dengan hewan/ternak lain yang dapat mengganggu kesehatan ayam yang dipelihara, seperti kumbang, anjing, kucing, babi, burung piaraan, tikus dan lain sebagainya. Penerapan biosekuriti terhadap ternak pengganggu diharapkan ayam yang dipelihara tetap dalam kondisi sehat dan tidak terganggu atau tertular penyakit akibat keberadaan hewan ternak lain disekitar lokasi peternakan.
Penerapan biosekuriti terhadap tamu dan pekerja peternakan. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk membatasi lalu-lintas tamu pekerja keluar masuk lokasi peternakan. Selain pembatasan lalu lintas tamu atau pekerja, setiap tamu /pekerja yang keluar masuk lokasi peternakan harus bersih dan aman atau bebas dari mikroba penyebab penyakit, sehingga peternakan sebaiknya menyediakan tempat cuci kaki atau mungkin sarana mandi obat (dipping) untuk mensucikan diri dari mikroba bibit penyakit serta pakaian khusus yang dijamin sterilitasnya. Belum diterapkannya biosecurity ini dimungkinkan karena penerapan tersebut harus melibatkan orang lain untuk mentaati aturannya. Selain itu, penerapan aturan ini, masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim dan cenderung dapat menyinggung perasaan baik tamu maupun pekerja peternakan.
Biosekuriti terhadap ayam sakit/mati. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk menghindarkan penularan ayam sakit/mati dari ayam- ayam yang sehat disekitarnya. Tindakan diagnose penting dilakukan untuk menentukan tindakan pencegahan khususnya melalui vaksinasi yang sesuai dengan jenis penyakit yang ditemukan ketika dilakukan diagnose. Hal ini dimungkinkan karena pemilik peternakan masih belum terbiasa untuk memperoleh pelayanan dari petugas kesehatan hewan yang ada di Nabire.
Biosekurit terhadap pakan. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk menjamin kualitas pakan yang diberikan kepada ayam yang dipelihara. Penerapan biosecurity ini dilakukan dengan asupan pakan yang berkualitas dan cukup kuantitasnya, diharapkan kondisi vitalitas dan kesehatan ayam menjadi lebih baik.
Biosekurit terhadap kandang. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk menjamin sanitasi kebersihan kandang dan sekitar kandang dalam satu lokasi peternakan, termasuk peralatan yang digunakan dalam kandang harus senantiasa bersih dan steril, serta bebas dari bibit penyakit. Penerapan biosecurity ini dilakukan dengan kandang dan tempat sekitar kandang yang bersih dan bebas penyakit, diharapkan ayam yang tinggal di kandang menjadi lebih sehat dan nyaman sehingga proses produksi menjadi lebih baik.
Biosekuriti terhadap Limbah. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk mencegah adanya pencemaran lingkungan sekitar kandang akibat limbah yang dihasilkan dari kegiatan produksi ayam. Hal ini dapat membantu menciptakan sanitasi dan lingkungan yang bebas dari polusi (pencemaran), baik fisik yang berupa bau, kimia yang berupa penimbunan gas methan yang dihasilkan dari kotoran ayam maupun polusi biologi berupa mikroba bibit penyakit. Jika terjadi pencemaran, akan berdampak pada manusia maupun ternak yang dipelihara dilokasi peternakan tersebut. Penerapan biosekuriti terhadap limbah dari masing-masing peternakan.
Biosekurit terhadap Hygiene Peternakan Ayam. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk memperoleh kualitas produk ayam potong (karkas) yang menjamin keamanan dan kelayakan pangan. Tindakan biosekuriti ini berupa penanganan terhadap ayam yang dipelihara mulai dari kualitas dan komposisi gizi pakan yang seimbang, kesehatan termasuk vaksinasi dan sanitasi lingkungan sekitar kandang. Dengan kualitas gizi yang seimbang akan dihasilkan produk ayam potong dengan komposisi gizi yang seimbang. Penerapan biosekuriti terhadap higieni peternakan ayam dari masing-masing peternakan.
Manajemen Pakan
Pakan merupakan bahan makanan tunggal atau campuran, baik yang diolah maupun yang tidak diolah, yang diberikan kepada hewan untuk kelangsungan hidup, berproduki, dan berkembang biak (SNI 7652.2.2011). Pakan adalah segala sesuatu yang dapat dicerna atau dimakan dan diserap untuk memenuhi kebutuhan nutrien sehingga proses metabolis dalam tubuh dapat berjalan dengan optimal. Tubuh ternak terdiri atas zat-zat gizi sehingga ternak memerlukan zat gizi dari luar yang dapat dipakai oleh ternak untuk produksi dan petumbuhan. Zat dalam pakan dan terdiri atas komposisi zat kimia yang berguna untuk menunjang kehidupan suatu organisme disebut zat gizi atau nutrien (Prawirokusumo, 1993).
Bahan Baku Pakan Ayam Broiler
Bahan baku pakan (feed ingredients) merupakan bahan hasil pertanian, perikanan, peternakan dan hasil industri yang mengandung zat gizi dan layak dipergunakan sebagai pakan ternak baik yang telah maupun yang belum diolah (SNI 01-3931-2006). Bahan baku harus memiliki unsur nutrisi seperti tingkat protein dan energi metabolisme. Dalam hal ini termasuk juga asam amino, mineral, dan vitamin (Simamora, 2014). Manajemen bahan baku juga perlu dipertimbangkan beberapa hal seperti harga, kualitas, dan kontinuitas ketersediaan bahan pakan (Sukria dan Krisnan, 2009)
Konsumsi Pakan dan Pertambahan Bobot Badan Broiler
Konsumsi pakan (feed intake) merupakan jumlah pakan yang dihabiskan oleh ayam atau unggas pada periode waktu tertentu, misalnya konsumsi pakan setiap hari dihitung dengan satuan gram/ekor/hari (Yuwanta, 2004). Konsumsi pakan akan bertambah setiap minggu sesuai dengan pertambahan bobot badan. Konsumsi pakan akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan bobot akhir karena pembentukan bobot, bentuk dan komposisi tubuh. Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum, kesehatan, bobot badan, suhu dan kelembaban serta kecepatan pertumbuhan ternak (Wahju, 2004).
Tabel Bobot badan dan pertambahan bobot badan ayam broiler
Pemberian Pakan Ayam Broiler Pemberian pakan pada periode starter pada minggu pertama dilakukan secara adlibitum yaitu pemberian pakan secara terus-menerus. Pemberian pakan inidilakukan sesering mungkin dengan jumlah sedikit demi sedikit. Anak ayam pada periode ini masih dalam tahap belajar dan adaptasi dengan lingkungan sehingga pemberian pakan dalam jumlah sedikit demi sedikit dimaksudkan agar tidak banyak terbuang dan tidak tercampur dengan kotoran ayam (Simamora, 2014). Frekuensi atau waktu pemberian pakan pada anak ayam biasanya lebih sering sampai 5 kali sehari. Semakin tua ayam,frekuensi pemberian pakan semakin berkurang sampai dua atau tiga kali sehari (Suci et al., 2005). Hal yang perlu mendapat perhatian dari segi waktu pemberian pakan adalah ketepatan waktu setiap harinya. Ketepatan waktu pemberian pakan perlu dipertahankan, karena pemberian pakan pada waktu yang tidak tepat setiap hari dapat menurunkan produksi. Pakan juga dapat diberikan dengan cara terbatas pada waktu tertentu dan disesuaikan dengan kebutuhan ayam, misalnya pagi dan sore. Waktu pemberian pakan dipilih pada saat yang tepat dan nyaman sehingga ayam dapat makan dengan baik dan tidak banyak pakan yang terbuang (Sudaro dan Siriwa, 2007).
Tabel frekuensi Pemberian Pakan Broiler
Kualitas dan Kuantitas Pakan Broiler Fase Starter
Pada fase starter, kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, kalsium (Ca) 1%, phospor (P) 0,7-0,9%, ME: 2800-3500 kkal/kg makanan. Sedangkan kuantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi empat golongan, yaitu: Minggu ke-1 (1-7 hari) 17 gram/ekor/hari Minggu ke-2 (8-14 hari) 43 gram/ekor/hari Minggu ke-3 (15-21 hari) 66 gram/ekor/hari Minggu ke-4 (22-28 hari) 91 gram/ekor/hari Keseluruhan jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram (Ardana, 2009).
Kualitas dan Kuantitas Pakan Broiler Fase Finisher
Pada fase finisher kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, phospor (P) 0,7-0,9%, dan energi (ME): 2900-3400 kkal/kg. Sedangkan kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur, yaitu: Minggu ke-5 (29-35 hari) 111 gram/ekor/hari Minggu ke-6 (36-42 hari) 129 gram/ekor/hari Minggu ke-7 (43-49 hari) 146 gram/ekor/hari Minggu ke-8 (50-56 hari) 161 gram/ekor/hari Keseluruhan jumlah pakan per ekor pada umur 29-56 hari adalah 3.829 gram pakan (Ardana, 2009).
Pemberian Air Minum Ayam Broiler
Ayam broiler bisa mendapatkan air melalui tiga cara yaitu air minum (sumber air tebanyak), ransum yang dikonsumsi, air metabolis yang diperoleh dari hasil di dalam tubuh ayam itu sendiri (Hutagaol, 2014). Air mempunyai fungsi yaitu zat dasar dari darah, cairan interseluler dan intraseluler yang bekerja aktif dalam transformasi zat-zat makanan; penting dalam mengatur suhu tubuh karena air mempunyai sifat menguap dan spescific heat; membantu mempertahankan homeostatis dengan ikut dalam reaksi dan peruahan fisiologis yang mengontrol pH, tekanan osmosis, konsentrasi elektrolit (Scott et al., 1982). Setiap mengkonsumsi 1,0 gram pakan, ayam harus mengkonsumsi sekitar 2,0-2,5 g air saat periode starter dan grower, sedangkan saat periode layer sekitar 1,5-2,0 g (Suprijatna et al., 2005).
Konversi Pakan dan Efisiensi Pakan FCR merupakan perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertumbuhan berat badan. Angka konversi ransum yang kecil berarti jumlah ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit (Edjeng dan Kartasudjana, 2006). Konversi pakan (feed conversion ratio) merupakan perbandingan antara jumlah pakan yang dihabiskan dan kenaikan bobot badan pada periode waktu dan satuan berat yang sama (Hutagaol, 2014).
Kartasudjana dan Surpijatna (2010) menyatakan bahwa konversi pakan didefinisikan sebagai banyaknya ransum yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan.
Panen
Periode panen merupakan tahapan akhir pemeliharaan ayam broiler komersil. Berhasil atau tidaknya usaha ayam broiler komersial dapat diketahui setelah semua ayam dipanen. Jadwal pertama panan biasanya telah ditentukan ketika ayam akan dipelihara. Namun bisa berubah karena kondisi tertentu seperti ayam sakit atau karena faktor harga jual (Rasyaf, 2008)
Sebelum melakukan panen ada beberapa persiapan yang dilakukan seperti ;
1. Membuat jadwal kandang yang akan dipanen sesuai dengan ukuran berat ayam dan letak kandang, serta mempersiapkan tim tangkap sesuai dengan kebutuhan. 2. Mempersiapkan peralatan panen, seperti timbangan, alat tulis, surat jalan, nota timbang, tali rafia, keranjang ayam, dan lampu senter Ayam yang akan dipanen harus dikurangi pakannya agar sisa pakan tidak terlalu banyak. 3. Ketika dipanen, ayam lebih baik tidak diberi pakan (dipuasakan) selam 4 – 6 jam sebelum ditangkap. Tujuannya untuk menghindari tembolok ayam penuh dengan pakan sehingga berat ayam menjadi tidak nyata. Namum air minum harus selalu tersedia. 4. Membuat laporan stock ayam beserta ukurannya 5. Menghindari antibiotik ketika panen minimal lima hari hingga dua minggu setelah panen
Aktivitas panen biasanya dilakukan pada malam atau pagi hari, tetapi ada juga pasar yang meminta ditangkap siang atau sore hari. Jumlah dan ukuran ayam harus disesuaikan dengan surat permintaan (delivery order/DO). Harga ayam bervariasi tergantung pada beratnya. Berat panen ayam biasanya diklasifikasikan menjadi beberapa ukuran, yaitu : ~kecil (0,8 – 1,2 kg), ~sedang (1,3 – 1,6 kg) ~berat ( > 1,7 kg)
Kegiatan yang dilakukan ketika panen : ~Menggantung tempat pakan dan minum ~Menangkap ayam dilakukan secara hati-hati. ~Menyekat ayam yang akan ditangkap secara bertahap, lalau memisahkannya ~Menangkap ayam sebaiknya tidak menggunakan cara memilih, tetapi harus menghabiskan ayam dalam satu sekatan ~Menimbang setiap ayam yang ditangkap ~Memasukan ayam yang akan ditimbang ke dalam keranjang secara perlahan, satu kranjang bisa diisi 12 – 15 ekor ayam ukuran kecil, untuk ayam ukuran sedang dan besar dapat diisi 8 – 10 ekor ~Mencatat hasil penimbangan dan jumlah ayam yang di tangkap secara benar dan jelas ~Panen hendaknya dilaksanakan dengan memperhatikan setiap poin diatas (Rasyaf, 2008)
Pasca Panen
Kegiatan yang dilakukan pasca panen adalah mengumpulkan semua peralatan kandang dan membersihkannya. Selanjutnya, menimbang pakan sisa dan mencatatnya serta menghitung total ayam dan total berat ayam yang dijual. Terakhir melakukan evaluasi perhitungan prestasi produksi ayam (Fadilah, 2005).
Stoving Penampungan ayam sebelum dilakukan pemotongan, biasanya ditempatkan di kandang penampungan (Houlding Ground) Pemotongan Pemotongan ayam dilakukan dilehernya, prinsipnya agar darah keluar keseluruhan atau sekitar 2/3 leher terpotong dan ditunggu 1-2 menit. Hal ini agar kualitas daging bagus, tidak mudah tercemar dan mudah busuk. Pengulitan atau Pencabutan Bulu Caranya ayam yang telah dipotong itu dicelupkan ke dalam air panas (51,7- 54,4 derajat C). Lama pencelupan ayam broiler adalah 30 detik. Bulu-bulu yang halus dicabut dengan membubuhkan lilin cair atau dibakar dengan nyala api biru. Pengeluaran Jeroan Bagian bawah dubut dipotong sedikit, seluruh isi perut (hati, usus dan ampela) dikeluarkan. Isi perut ini dapat dijual atau diikut sertakan pada daging siap dimasak dalam kemasan terpisah. Pemotongan Karkas Kaki dan leher ayam dipotong. Tunggir juga dipotong bila tidak disukai. Setelah semua jeroan sudah dikeluarkan dan karkas telah dicuci bersih, kaki ayam/paha ditekukan dibawah dubur. Kemudian ayam didinginkan dan dikemas.
Serangkaian kegiatan pasca panen tersebut dapat dilaksanakan baik oleh peternak maupun pihak pengolah hasil ternak pasca panen (Tamalluddin, 2014)
Pembersihan Kandang
Setelah ayam dipanen, di dalam kandang akan tertinggal sisa-sisa pemeliharaan ayam, mulai dari kotoran, debu, bulu, serta bibit penyakit. Setelah seluruh ayam dipanen, kita perlu melakukan kegiatan pembersihan dan desinfeksi agar kondisi kandang kembali bersih dan siap ditempati ayam baru, baik dari struktur (fisik) maupun fungsinya (Medion, 2016).
Target keberhasilan dan desinfeksi kandang adalah untuk mengurangi dan meminimalkan jumlah bibit penyakit di dalam kandang dan sekitar kandang. Tahapan pembersihan kandang antara lain: ~Sisa kotoran ayam, baik berupa feses, sekam, bulu, maupun debu hendaknya dikeluarkan dari kandang. Kemudian, semprotkan air bertekanan tinggi. Jika sisa kotoran tidak dihilangkan, siklus bibit penyakit akan terus berlangsung dan bibit penyakit selalu ada di dalam kandang ~Menyemprotkan insektisida pada kandang yang banyak kutu atau serangga ~Membersihkan lantai dengan cara menggosok dan mencuci lantai menggunakan deterjen. Kemudian semprot kembali kandang dengan air dan dikeringkan ~Membersihkan rumput dan semak di sekitar kandang agar tidak menjadi sarang penyakit dan parit/selokan di samping kandang agar aliran air lancar ~Pengapuran tanah di bawah kandang panggung dan seluruh bagian kandang untuk mengurangi kelembaban dan membunuh sisa-sisa mikroorganisme penyebab penyakit ~Mencuci tempat ransum ayam (TRA) dan tempat minum ayam (TMA) dengan asam sitrat (1-3 g/1 liter air) untuk mengangkat lendir dan lumut yang menempel, lalu dibilas. Kemudian rendam dalam larutan desinfektan (Medisep) selama 30 menit dan keringkan ~Membersihkan pipa, selang, dan torn air di masing-masing kandang dengan menggunakan larutan asam sitrat (3 g/1 liter air). Caranya, isi penuh torn air dengan larutan asam sitrat, buka ujung pipa/selang sampai larutan mengalir ke ujung, lalu tutup ujung pipa/selang tersebut dan diamkan selama 12 jam. Setelah itu bilas dengan air bersih bertekanan tinggi/lakukan flushing untuk membuang lumut/biofilm yang menempel pada pipa, selang maupun torn air. Setelah itu, torn air bisa didesinfeksi dengan Medisep atau Neo Antisep ~Semua tirai kandang (tirai dinding, tirai dalam, tirai plafon, dan tirai alas/cover slat) dicuci dengan deterjen dan bilas. Setelah kering, pasang tirai dinding dan cover slat (untuk kandang panggung) ~Semua peralatan kandang yang sudah bersih dimasukkan ke dalam kandang, kemudian desinfeksi keseluruhan kandang baik bagian dalam maupun luar dengan Formades atau Sporades. Untuk mengoptimalkan desinfeksi sebaiknya gunakan jetspray agar seluruh kandang terkena cairan desinfektan
Serangkaian tahapan pembersihan kendang tersebut baiknya selalu dilaksanakan oleh para peternak ayam broiler (Medion, 2016).
Masa Istirahat Kandang
Setelah kandang dibersihkan dan didesinfeksi secara keseluruhan, kandang perlu diistirahatkan selama beberapa waktu. Secara umum, masa istirahat kandang minimal 14 hari dihitung dari waktu kandang selesai dibersihkan. Bahkan saat terjadi kasus, misalnya serangan Gumboro maupun Marek, maka masa istirahat kandang perlu diperpanjang. Tujuannya agar bibit penyakit yang berada di kandang bisa dikurangi secara optimal atau untuk memutus siklus bibit penyakit (Medion, 2016).
Selama pelaksanaan istirahat kandang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan seperti: ~Pembuatan list peralatan (TRA, TMA, pemanas, dll) yang dibutuhkan ketika akan chick in dan sesuaikan dengan jumlah DOC tiap kandang. ~Pengecekan atau inspeksi terhadap seluruh sarana penunjang lainnya (sumber air, instalasi listrik, dsb). ~Pemeriksaan kondisi peralatan dan pastikan semua alat dapat berfungsi optimal. Contohnya jika pemanas tidak berfungsi, segera diservis agar siap digunakan menjelang chick in. ~Setelah melaksanakan serangkaian manajemen pasca panen tersebut, maka diperlukan kembali persiapan kandang sebelum chick in (Medion, 2016).
Pemasaran
Penjualan yang paling efektif salah satu cara yang dapat dipilih untuk memasarkan ayam potong adalah dengan menjual secara online, mempromosikan atau mengiklankan di media sosial baik dalam bentuk ayam hidup maupun karkas. customer dapat memesan dan ayam potong dikirimkan dengan sistem delivery order. Menjual dengan keadaan segar dan higienis akan menambah kepuasan konsumen. sehingga mungkin akan membeli lagi dikemudian hari.
Target Konsumen ada 2 target yang kami pilih yaitu pelaku usaha dan rumah tangga. Pelaku usaha bisa dikategorikan sebagai restoran, rumah makan atau sejenisnya termasuk rumah produksi yang berbahn bahu ayam broiler. Sedangkan rumah tangga adalah semua perseorangan yang tujuannya untuk konsumsi pribadi.
Penentuan harga Penentuan harga pada usaha ayam ras pedaging (broiler) adalah perdasarkan kesepakatan kerja sama antara pengusaha dengan perusahaan dan pihak ketiga (agen) pada awal priode usaha, hal itu dikarenakan hanya sebagian kecil hasil produksi yang dijual langsung kepada konsumen oleh pengusaha dan hampir secara keseluruhan dijual melalui perusahaan, hal itu dikarenakan adanya ikatan kerjasama dan kesepakatan harga hasil produksi dengan pihak perusahaan. Penjualan langsung hanya dapat dilakukan oleh pengusaha ayam yang memiliki DO (Delivery Order) pada usahanya, sedangkan bagi pengusaha yang terikat kerja sama dengan perusahaan dan tidak memiliki DO (Delivery Order) maka tidak dapat melakukan penjualan langsung. Namun secara garis besar harga produk pada bulan mei 2015 berkisar antara Rp. 16.610 hingga Rp. 16.940 per Kg sesuai dengan berat badan (ayam) per ekornya (Soraba, 2016)
hal yang paling penting dalam menentukan harga adalah Harga pokok produksi dan kondisi pasar, kita harus menjual tidak kurang dari HPP ayam broiler tetapi juga mempertimbangkan kondisi pasar.
analisis Usaha
Analisis usaha sangatlah penting dalam berwirausaha. Analisis Usaha peternakan ayam pedanging (Broiler) terdapat resiko-resiko berdasarkan biaya-biaya yang dikeluarkan pada usaha peternakan ayam ras pedaging. Metode yang digunakan untuk menghitung adalah Perhtingan Laba Rugi, Cash Flow, Net Present Velue (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Paybak Period (PP), dan Break Event Point (BEP).
Laporan Laba Rugi Proyeksi Laba Rugi Pemeliharaan Ayam Ras Pedaging Skala 2500 Ekor Laporan laba rugi (income statement) adalah bentuk laporan keuangan yang memuat hal –hal yang berhubungan dengan hasil usaha perusahaan selama waktu tertentu. Hasil usaha tersebut diperoleh dengan cara membandingkan semua penerimaan dengan semua pengeluaran (Rangkuti, 2000). Variabel yang terdapat di dalam laporan laba rugi terdiri dari empat variabel utama, yaitu (Rangkuti, 2000) : a. Penerimaan dari kegiatan operasional (Operating revenues) b. Harga pokok penjualan (Cost of Goods Sold) c. Biaya Operasional (Operating Expence) d. Penerimaan dan pengeluaran lain –lain (Non operating revenues and expenses).
Cash Flow Income dan Cast Cost PemeliharaanAyam Ras Pedaging Skala 2500 Ekor
Net Present Value (NPV) NPV merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capitalsebagai diskon faktor, atau dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskontokan pada saat ini. Untuk menghitung NPV diperlukan data tentang perkiraan biaya investasi, biaya operasi, dan pemeliharaan serta perkiraan manfaat/benefit dari proyek yang direncanakan. Jadi perhitungan NPV mengandalkan pada teknik arus kas yang didiskontokan. Perhitungan (NPV) Pemeliharaan Ayam Ras Pedaging Skala 2500 Ekor
Net Present Value diperoleh sebesar Rp 3,252,725, ini berarti NPV > 0 (Bernilai Positif). Sehingga investasi proyek ini dapat dijalankan.
Internal Rate of Return (IRR) Metode ini untuk membuat peringkat usulan investasi dengan menggunakan tingkat pengembalian atas investasi yang dihitung dengan mencari tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai. Perhitungan IRR pada usaha ayam ternak ini menggunakan interpolasi antara NPV > 0 dengan NPV < 0. IRR didapat dengan NPV = 0. Interpolasi dilakukan pada suku bunga 12% (NPV >0) dan suku bunga 8% ( NPV < 0 ) seperti terlihat pada tabel. diperoleh dengan perhitungan IRR sebagai berikut :
Hasil Perhitungan diperoleh nilai IRR 151,8% yang lebih besar dari MARR (IRR > MARR), sehingga usaha peternakan ayam ras pedaging ini layak.
Payback Period (PP) Menurut Abdul Choliq dkk (2004) payback period dapat diartikan sebagai jangka waktu kembalinya investasi yang telah dikeluarkan, melalui keuntungan yang diperoleh dari suatu proyek yang telah direncanakan. Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2004) payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan proceeds atau aliran kas netto (net cash flows). Payback period adalah berapa lama modal yang ditanamkan dalam usaha tersebut dapat kembali. Payback period dari usaha ini :
Terlihat bahwa periode pengembalian adalah antara tahun 0 dan tahun ke 1 yang dapat dihitung dengan interpolasi sebagai berikut :
Payback Period Usaha Peternakan Ayam Ras Pedaging Ini Adalah 7 Bulan.
DAFTAR PUSTAKA
Amrullah, I. K. 2003. Manajemen Ternak Ayam Broiler. IPB-Press, Bogor. Ardana, Ida Bagus Komang. 2009. Ternak Broiler. Edisi I., Cetakan I. Swasta Nulus, Denpasar. Astuti, D. A. 2010. Petunjuk Praktis Beternak Ayam Ras, Petelur, Itik dan Burung puyuh. PT. Agromedia Pustaka: Jakarta. Edjeng S. &. Kartasudjana, R. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta. Fadilah. 2004. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Cetakan Pertama. Agromedia Media Pustaka. Jakarta. Fadilah, R. 2005. Kunci Sukses Beternak Ayam Broiler di Daerah Tropis. Cetakan ke-2. Agromedia Media Pustaka. Jakarta. Fadilah, R. dan Fatkhuroji. 2013. Memaksimalkan Produksi Ayam Ras Petelur. Agromedia Pustaka. Jakarta. H.A. Olanrewaju, J.P. Thaxton , W.A. Dozier III , J. Purswell , W.B. Roush and S.L. Branton, A Review of Lighting Programs for Broiler Production, International Journal of Poultry Science 5 (4): 301-308, 2006 Hutagaol. Elisabeth D. 2014. Manajemen Pakan Ayam Broiler Di Farm Tambiluk PT. Surya Unggas Mandiri Desa Tambiluk Kecamatan Petir Kabupaten Serang, Banten. Program Studi Diploma iii Manajemen Usaha Peternakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro. Semarang. Kartasudjana, R. dan E. Suprijatna. 2006. Manajemen Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta. Lewis, P. D. dan R. M. Gous, 2007. Broilers perform better on short or step-up photoperiods. South Afr. J. Anim. Sci. 37 : 90-96. Medion. 2016. Manajemen Pasca Panen. Info Medion Online, Artikel Broiler Tata Laksana. Bandung. Mulyantono, B. dan Isman. 2008. Bertahan ditengah Krisis. Agromedia. Jakarta. Murwani, R. 2010. Broiler Modern. CV Widya Karya . Semarang.
Rangkuti, F, 2000, Perencanaan Bisnis Teknik Membuat Perencanaan Bisnis dan Analisa Ka-sus, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Rasyaf, M. 2000. Manajemen Peternakan Ayam Broiler. Penebar Swadaya. Bogor. Rasyaf, M. 2005. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf , M. 2008. Panduan Terhadap ternak Ayam Pedaging . Swadaya Jakarta. Rasyaf, M. 2012. Panduan Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta. Rasyaf, M. 2012. Panduan Mengolah Peternakan Ayam Pedaging. Penebar swadaya, Jakarta. Scott, M. L., M. C. Nesheim & R. J. Young. 1982. Nutrition of the Chicken. 3rd Ed. ML. Scott and ASS, Ithaca. Setiawan, I dan E. Sujana.2009. Bobot Akhir,Persentase Karkas dan Lemak Abdominal Ayam Broiler yang Dipanen Pada Umur Yang Berbeda. Seminar Nasional Fakultas Peternakan UNPAD. Simamora, Saruedi. 2014. Manajemen Pakan Pada Ayam Broiler. Fakultas Kedokteran hewan, Universitas Udayana. Denpasar. Soraba, A. 2016. Strategi pemasaran ayam ras pedaging (Broiler) di Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu. Universitas Pasir Pengaraian: Rokan Hulu. Suci, D. M., E. Mursyida, T. Setianah, & R. Mutia. 2005. Program pemberian makanan berdasarkan kebutuhan protein dan energy pada setiap fase pertumbuhan ayam Poncin. Med. Pet. 28: 70-76. Sudaro, Y. & A. Siriwa. 2007. Ransum Ayam dan Itik. Cetakan IX. Penebar Swadaya, Jakarta. Suprijatna, E. U, Atmomarsono. R, Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya: Jakarta. Suprijatna, E. U, Atmomarsono. R, Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya: Jakarta. Suprijatna, E. Umiyati, A. Ruhyat, K. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta. Tamalluddin, Ferry. 2014. Panduan Lengkap Ayam Broiler. Penebar Swadaya. Tasikmalaya. Triyanto, 2007. Performa produksi burung burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) periode produksi umur 6-13 minggu pada lama pencahayaan yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Edisi Ke-4. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Blog ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Ternak Unggas prodi S1 Peternakan 2018, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret
Dosen pembimbing: Ratih Dewanti S. Pt., M. Sc.
Kelompok 4
Andes Isya Agastya. (H0518008)
Dewi mawas pribadi. (H0518024)
Mohammad Ilham D. (H0518057)
Nasichatul Hamimah. (H0518064)
Slamet Prihatin. (H0518087)
Biosecurity adalah suatu tindakan untuk menghindari kontak antara hewan dan mikroorganisme dan merupakan pintu pertahanan pertama dalam upaya pengendalian penyebaran suatu penyakit.
Biosecurity dilakukan untuk meminimalkan jumlah bibit penyakit dan mencegah ayam terinfeksi, peternak harus dapat menerapkan biosecurity secara optimal sebagai sistem perlindungan dari luar disamping melakukan vaksinasi.
Manajemen pemeliharaan dengan diterapkannya biosecurity secara ketat merupakan perpaduan tepat sebagai kunci sukses pemeliharaan ayam. Biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan pun akan lebih murah.dibandingkan dengan biaya pengobatan/ penanganan saat sudah terjadinya wabah penyakit.
Hal terpenting dari sistem biosecurity adalah pelaksaannya yang dilakukan secara menyeluruh dan terus-menerus. Biosecurity tidak harus identik dengan biaya yang besar, namun dapat diterapkan sesuai persyaratan dengan biaya yang murah.
Penerapan biosecurity yang paling umum dilakukan peternak adalah sanitasi kandang dengan menyemprot desinfektan. Namun hal ini tidak cukup untuk menekan bibit penyakit di lingkungan peternakan. Pada dasarnya, biosecurity diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk melindungi makhluk hidup dari bibit penyakit.
Dalam usaha budidaya ayam, biosecurity sebagai upaya untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit menular ke dalam maupun keluar lingkungan peternakan. Oleh karenanya, penerapan biosecurity harus secara menyeluruh, terus menerus dan dinamis untuk menjaga ayam agar terhindar dari bibit penyakit. Tentunya sistem biosecurity tidak akan berjalan secara efektif tanpa melibatkan masyarakat peternakan seperti pemilik, manager, pekerja atau pegawai kandang serta seluruh pengunjung peternakan.
Model untuk sistem biosecurity
Biosekurity apabila dipraktekkan, ia akan membantu pemilik peternakan dan lingkungan tetangganya keluar dari berbagai permasalahan. Pengendalian penyakit merupakan bagian dari rasa tanggung jawab terhadap yang lain. Penyakit tidak dapat dikendalikan dan diberantas dengan cara berdiam diri atau memberikan informasi yang salah. Ketika upaya untuk memberantas dan mengendalikan agen penyakit dilakukan, pemilik peternakan harus memanfaatkan peristiwa alam sekitar seperti sinar matahari, panas, kering, hujan, angin dan waktu atau musim.
Seringkali pemilik hanya memikirkan kerugian pendapatan ketika kandangnya kosong, padahal mortalitas yang tinggi dan penampilan yang buruk biasanya lebih merugikan lagi bila terburu-buru untuk memasukkan flok ayam baru. Oleh karena itu lebih baik menunggu sedikit lebih lama (sekitar dua minggu lebih) kandang dibiarkan dalam keaadaan istirahat dulu sebelum flok berikutnya masuk.
Berikut beberapa penerapan biosecurity yang dapat dilakukan pada Ayam Broiler
Biosekuriti pada sumber ayam/DOC. Penerapan biosekuriti pada aspek sumber ayam DOC (Day Old Chicken) dimaksudkan untuk mempertahankan kesehatan hewan sebelum kontak dengan hewan lain. Penerapan biosekuriti pada aspek sumber ayam dari masing-masing peternakan hasil penelitian, bahwa terhadap aspek kelengkapan SKKH pada ayam DOC yang dibeli keduanya sama-sama nihil. Hal demikian memang jarang dilakukan oleh perusahaan, namun demikian berdasarkan ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) 4868.1 : 2013 (BSN, 2013) tentang bibit niaga (final stock) DOC ayam ras tipe pedaging mensyaratkan standar mutu, cara uji, pengemasan, pelabelan dan pengangkutan bibit niaga DOC ayam ras tipe pedaging. Dengan demikian maka setiap DOC yang dipasarkan wajib dilakukan pengujian persyaratan kualitati terhadap kondisi fisik, baik terhadap aspek produksi seperti performans atau kondisi eksterior maupun terhadap status kesehatan hewan. Khusus pemeriksaan kesehatan hewan wajib dilakukan oleh dokter hewan yang ditunjuk oleh gubernur bupati/walikota serta menerbitkan SKKH hasil pemeriksaan, sehingga sekalipun dalam tata niaganya tidak dilengkapi dengan SKKH, namun dapat dipastikan bahwa DOC yang dipasarkan tersebut sudah dilakukan pemeriksaan dan SKKH hasil pemeriksaannya bersifat kolektif untuk seluruh DOC yang dipasarkan saat itu.
kolaborasi kandang close house – vaksinasi – biosecurity
Penerapan biosekuriti terhadap hewan ternak pengganggu. Penerapan biosekuriti terhadap hewan/ternak penggangu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kontak dengan hewan/ternak lain yang dapat mengganggu kesehatan ayam yang dipelihara, seperti kumbang, anjing, kucing, babi, burung piaraan, tikus dan lain sebagainya. Penerapan biosekuriti terhadap ternak pengganggu diharapkan ayam yang dipelihara tetap dalam kondisi sehat dan tidak terganggu atau tertular penyakit akibat keberadaan hewan ternak lain disekitar lokasi peternakan.
mencegah kontak dengan hewan pengganggu
Penerapan biosekuriti terhadap tamu dan pekerja peternakan. Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk membatasi lalu-lintas tamu pekerja keluar masuk lokasi peternakan. Selain pembatasan lalu lintas tamu atau pekerja, setiap tamu /pekerja yang keluar masuk lokasi peternakan harus bersih dan aman atau bebas dari mikroba penyebab penyakit, sehingga peternakan sebaiknya menyediakan tempat cuci kaki atau mungkin sarana mandi obat (dipping) untuk mensucikan diri dari mikroba bibit penyakit serta pakaian khusus yang dijamin sterilitasnya. Belum diterapkannya biosecurity ini dimungkinkan karena penerapan tersebut harus melibatkan orang lain untuk mentaati aturannya. Selain itu, penerapan aturan ini, masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak lazim dan cenderung dapat menyinggung perasaan baik tamu maupun pekerja peternakan.
sterilisasi sebelum masuk kandang
pastikan selalu steril saat masuk kamdang
Biosekuriti terhadap ayam sakit/mati.
Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk menghindarkan penularan ayam sakit/mati dari ayam-ayam yang sehat disekitarnya. Tindakan diagnose penting dilakukan untuk menentukan tindakan pencegahan khususnya melalui vaksinasi yang sesuai dengan jenis penyakit yang ditemukan ketika dilakukan diagnose. Hal ini dimungkinkan karena pemilik peternakan masih belum terbiasa untuk memperoleh pelayanan dari petugas kesehatan hewan yang ada di Nabire.
mortality disposal
Biosekurit terhadap pakan.
Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk menjamin kualitas pakan yang diberikan kepada ayam yang dipelihara. Penerapan biosecurity ini dilakukan dengan asupan pakan yang berkualitas dan cukup kuantitasnya, diharapkan kondisi vitalitas dan kesehatan ayam menjadi lebih baik.
Biosekurit terhadap kandang.
Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk menjamin sanitasi kebersihan kandang dan sekitar kandang dalam satu lokasi peternakan, termasuk peralatan yang digunakan dalam kandang harus senantiasa bersih dan steril, serta bebas dari bibit penyakit. Penerapan biosecurity ini dilakukan dengan kandang dan tempat sekitar kandang yang bersih dan bebas penyakit, diharapkan ayam yang tinggal di kandang menjadi lebih sehat dan nyaman sehingga proses produksi menjadi lebih baik.
penerapan biosecurity sebelum masuk kandang
penyemprotan desinfektan pada kendaraan yang masuk areal kandang
Biosekuriti terhadap Limbah.
Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk mencegah adanya pencemaran lingkungan sekitar kandang akibat limbah yang dihasilkan dari kegiatan produksi ayam. Hal ini dapat membantu menciptakan sanitasi dan lingkungan yang bebas dari polusi (pencemaran), baik fisik yang berupa bau, kimia yang berupa penimbunan gas methan yang dihasilkan dari kotoran ayam maupun polusi biologi berupa mikroba bibit penyakit. Jika terjadi pencemaran, akan berdampak pada manusia maupun ternak yang dipelihara dilokasi peternakan tersebut. Penerapan biosekuriti terhadap limbah dari masing-masing peternakan.
Biosekurit terhadap Hygiene Peternakan Ayam.
Penerapan biosekuriti ini dimaksudkan untuk memperoleh kualitas produk ayam potong (karkas) yang menjamin keamanan dan kelayakan pangan. Tindakan biosekuriti ini berupa penanganan terhadap ayam yang dipelihara mulai dari kualitas dan komposisi gizi pakan yang seimbang, kesehatan termasuk vaksinasi dan sanitasi lingkungan sekitar kandang. Dengan kualitas gizi yang seimbang akan dihasilkan produk ayam potong dengan komposisi gizi yang seimbang. Penerapan biosekuriti terhadap higieni peternakan ayam dari masing-masing peternakan.