Produksi Aneka Ternak Unggas Peternakan UNS
Slamet Prihatin (H0518087)
ITIK MOJOSARI
Asal-usul dan Klasifikasi Itik Mojosari
Itik Mojosari merupakan itik lokal yang berasal dari Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur yang memiliki tingkat produktivitas cukup tinggi (Supriyadi, 2014). Karakteristik yang dimiliki itik Mojosari, antara lain bentuk tubuh hampir sama dengan itik Indian Runner lainnya yaitu seperti botol dan berdiri tegak tetapi ukuran tubuhnya lebih kecil, warna kerabang telur putih kehijauan, warna bulu antara itik betina dan jantan sama yaitu bewarna kemerahan dengan variasi cokelat, hitam dan putih, namun ekor yang melengkung ke atas (Suharno, 2003).
Itik Mojosari memiliki postur tubuh yang lebih kecil 5 dibandingkan dengan itik petelur lainnya, namun menghasilkan telur yang relatif lebih besar (Suharno, 2002). Terdapat dua jenis itik Mojosari yaitu itik Mojosari cokelat dan itik Mojosari putih. Produktivitas bertelur itik ini cukup tinggi yaitu 270 butir per ekor pertahun. Itik Mojosari cokelat dan putih dengan bobot badan dewasa dapat mencapai 1,7 kg.
Cara untuk membedakan itik Mojosari jantan dengan betina yaitu itik jantan memiliki 1 – 2 helai bulu ekor yang melengkung keatas serta warna paruh dan kakinya lebih hitam dibandingkan itik Mojosari betina (Wakhid, 2013). Bulu pada betina berwarna cokelat tua kemerahan dengan beberapa variasi yang tanpak diseluruh tubuh, sedangkan pada jantan bulu pada bagian kepala, leher dan dada berwarna cokelat gelap mendekati hitam, bagian perutnya agak keputih-putihan dan pada bagian punggung cokelat tua (Supriyadi, 2009).

Bobot badan dewasa itik Mojosari rata-rata 1,7 kg, berat telur sekitar 60 – 65 gram dan salah satu keunggulan dari itik Mojosari yaitu masa produksinya lebih lama (Prasetyo dan Susanti, 2006). Itik bertelur pertama kali pada umur sekitar 6 – 7 bulan tetapi produksi telurnya belum stabil, kestabilan produksi telur baru akan tercapai setelah umurnya lebih dari 7 bulan, setelah umur 7 bulan produksinya mulai stabil dan banyak (Danang dkk., 2012).
Menurut Susilorini (2010) itik adalah jenis unggas air yang secara ilmiah itik dikelompokkan dalam kelas dan susunan taksonomi berikut ini:
- Kelas : Aves
- Ordo :Anseriformes
- Family : Anatidae
- Genus : Anas
- Spesies : Anasplatyhyncos
Itik petelur jenis itik Mojosari pertama kali bertelur pada umur 25 minggu serta memiliki masa produksi lebih lama, bisa sampai 3 peroide masa produktif (Supriyadi, 2014).

Adapun Deskripsi rumpun itik mojosari menurut
KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2837/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN ITIK MOJOSARI
Deskripsi Rumpun Itik Mojosari sebagaimana dimaksud dalam diktum sebagai berikut:
- Nama rumpun : Itik Mojosari.
- Asal usul : Persilangan antara itik Jawa yang berasal dari Jawa dengan itik liar/mallard di Desa Modopuro,Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
- Wilayah sebaran asli Geografis : Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur.
- Wilayah sebaran : Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Provinsi Jawa Timur, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur.
- Karakteristik :
a. sifat Kualitatif (dewasa)
- postur tubuh : Ramping seperti botol.
- warna :
- dada : Jantan, Abu-abu keputihan. Betina, cokelat.
- punggung : Jantan, cokelat kehitaman.
- perut sampai paha : Jantan, abu-abu keputihan. Betina, cokelat bergaris hitam.
- ekor : Jantan, hitam. Betina, cokelat.
- kaki : Hitam.
- paruh : Hitam.
- kerabang telur : Hijau kebiruan.
b. sifat kuantitatif (dewasa)
- bobot badan : Jantan dan betina 1,6-1,7 kg.
- produksi telur : 200-220 butir/tahun.
- puncak produksi telur : 90-95%.
- bobot telur : 65-70 gram.
- konsumsi ransum : 140-160 gram/ekor/hari.
c. sifat reproduksi
- umur mulai produksi : 22-24 minggu.
- lama produksi telur : 3 tahun.
Pakan
Ransum merupakan campuran dari satu atau lebih bahan pakan yang diberikan pada ternak yang telah disusun untuk memenuhi kebutuhan zat – zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan proses metabolisme lain didalam tubuh dalam waktu 1×24 jam (Suprijatna dkk., 2005). Pemberian pakan pada fase layer yaitu sebesar 140 – 150 g/ekor/hari (Supriyadi, 2014). Kandungan dalam ransum meliputi protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Protein befungsi sebagai zat penyusun dasar semua jaringan tubuh serta bahan pembuat telur dan sperma. Lemak berfungsi sebagai penyerapan vitamin (A, D, E, K), menyediakan asam lemak esensial, berpengaruh penting dalam penyerapan kalsium dan menambah efisiensi penggunaan energi. Vitamin berfungsi sebagai pembantu (katalis) dalam proses pembentukan atau pemecahan zat gizi lain di dalam tubuh, jadi hanya dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral dibutuhkan untuk membentuk kerangka (tulang) tubuh, membantu pencernaan dan metabolisme dalam sel serta untuk pembentukan kerabang (kulit) telur (Listiyowati dan Roospitasari, 2009).
Ransum itik pada umumnya tidak berbeda dengan ransum ayam, hanya terdapat sedikit perbedaan yang terletak pada persentase kadar protein dalam ransum untuk itik lebih banyak (Wahju, 2004). Ransum merupakan pencampuran 5 bahan pakan yang telah disusun sesuai persyaratan agar ternak dapat berproduksi dengan opimal serta mempertimbangkan kebutuhan nutrisi ternak baik kebutuhan protein, serat maupun zat makanan lainnya (Suci, 2013). Komposisi pakan memiliki pengaruh sangat besar dalam pembentukan lemak dalam tubuh ternak (Zarehdaran dkk.,2004)
Protein
Protein dalam pakan merupakan unsur terpenting yang diperlukan untuk pertumbuhan dan efisiensi pakan dalam unggas, sumber protein didalam ransum unggas dapat terpenuhi dari protein hewani (tepung ikan) dan protein nabati yaitu bungkil kedelai (Suci, 2013). Unggas yang tidak mendapat asupan protein pertumbuhannya akan lambat dan tidak bisa bertambah besar, karena sumber protein berfungsi untuk memicu pertumbuhan serta dibutuhkan dalam produktivitasnya (Ketaren, 2010).
Protein dalam ransum yang dikonsumsi unggas akan dicerna oleh enzim pepsin di dalam proventrikulus dan gizzard, dan enzim proteolitik (tripsin dan chimotripsin) di dalam usus halus yang menghasilkan peptida dan asam amino, kemudian peptida dan asam amino tersebut akan diserap oleh mukosa usus halus unggas (Scott dkk., 1982). Protein merupakan suatu komponen yang paling banyak diperlukan untuk tubuh dalam pembentukan jaringan (Anggorodi, 1990).
- Energi Metabolis (EM)
Energi metabolis merupakan suatu energi didalam makanan yang tersedia bagi ternak untuk metabolisme pokok hidup, proses pertumbuhan dan produksi telur bagi itik petelur (Haryono dan Ujianto, 2000). Kebutuhan energi pakan merupakan faktor penting yang mempengaruhi konsumsi ransum itik, karena energi dan protein ransum disusun secara iso yang menyebabkan konsumsi protein masing – masing perlakuan sama (Mahfudz, 2006).
- Lemak
Lemak merupakan sumber energi tinggi yang terkandung dalam pakan unggas dan hampir 40% kandungan bahan kering telur tersusun atas lemak tetapi kandungan lemak harus dibatasi sekitar 2 – 5% (Sulistyoningsih, 2015). Lemak sering dicampurkan dalam pakan unggas yang digunakan untuk meningkatkan kandungan energi pakan (Suprijatna dkk., 2005). Kandungan lemak pakan dapat mempengaruhi kandungan lemak di dalam kuning telur (Bell dan Weaver, 2002). Lemak pakan yang dicerna di usus oleh enzim pankreas dan diemulsikan oleh garam – garam empedu menjadi micelle. Micelle diserap tubuh sebagai sumber tenaga bahan dasar pembentukan lemak dan kolesterol yang kemudian di deposisikan pada bagian organ tubuh tertentu seperti dalam proses pembentukan telur (Witariadi dkk., 2014).
- Serat Kasar
Serat kasar merupakan salah satu zat makanan penting dalam pakan itik, karena berfungsi merangsang gerak peristaltik saluran pencernaan sehingga dalam proses pencernaa zat – zat makanan berjalan dengan baik (Sutrisna, 2012). Itik dapat memanfaatkan bahan pakan berserat kasar tinggi dalam ransum sampai 14% (Sutrisna, 2012). Kadar SK yang terlalu tinggi, pencernaan nutrien akan semakin lama dan nilai energi produktifnya semakin rendah (Tillman dkk., 1991). Pencernaan serat kasar di unggas terjadi pada sekum dengan bantuan mikroorganisme yang disebabkan unggas tidak memiliki enzim selulase yang dapat memecah serat kasar (Wahju, 2004). Pencernaan serat kasar yang terjadi di dalam sekum pada unggas mencapai 20 – 30% (Suprijatna., 2005).
- Kalsium (Ca) dan Fosfor (P)
Mineral dibagi menjadi 2 kelompok yaitu mineral makro dan mikro, tetapi yang dibutuhkan di dalam pakan dalam jumlah relatif banyak yaitu makro yang terdiri dari kalsium dan fosfor (NRC, 1994). Mineral merupakan zat gizi yang terdapat di dalam pakan yang dibutuhkan ternak untuk pertumbuhan tulang, pembentukan telur, keseimbangan dalam sel tubuh, fertilitas dan daya tetas telur (Ketaren, 2010).
Mineral yang penting dihitung di dalam pakan adalah kalsium dan fosfor, bahan pakan yang mengandung mineral akan dicerna di dalam saluran pencernaan unggas menjadi ion mineral yang kemudian dapat diserap ke dalam tubuh unggas (Ketaren, 2010). Kalsium yang dikonsumsi dan diserap oleh usus halus kemudian masuk ke dalam darah dan ditransportasikan ke jaringan tulang dan daging dalam bentuk ion bebas, terikat dengan protein dan ion yang tidak dapat larut (Siahaan dkk., 2014). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ternak antara lain faktor nutrisional yang meliputi protein, vitamin, mineral dan kalsium (Wahju, 2004).
- Asam Amino
Asam amino di dalam protein pakan dibutuhkan ternak unggas untuk pembentukan sel, mengganti sel mati, membentuk jaringan tubuh seperti daging, telur, kulit embrio dan bulu (Ketaren, 2010). Sintesis protein jaringan tubuh dan telur memerlukan asam amino esensial, seringkali asam amino esensial yang sulit terpenuhi kandungannya di dalam pakan seperti Sistin, Listin dan Triptofan disebut sebagai asam amino kritis (Suprijatna dkk., 2005). Asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh ternak dan harus disediakan oleh pakan ternak disebut asam amino esensial yaitu meliputi arginin, glisin, histidin, leusin, isoleusin, lisin, metionin, sistin, tirosin, treonin, fenilalanin, triptofan dan valin. Asam amino non esensial yaitu tirosin, sistin, hidroksilin (Sultoni dkk., 2006). Penyerapan asam amino esensial di dalam hati akan dipengaruhi oleh estrogen yang akan dibentuk menjadi protein yang selanjutnya akan digunakan untuk pembentukan protein kuning telur (Latifa, 2007).

Kecukupan gizi yang di uraikan di atas dapat di penuhi dari berbagai campuran bahan pakan. Penggunaan bahan pakan lokal yang murah, tidak bersaing dengan manusia dan bermutu baik sangat disarankan agar usaha beternak itik dapat menguntungkan.Bahan pakan lokal yang dapat digunakan untuk makanan, itik dapat dibagi menurut sumber nutrisi yang terkandung di dalamnya. Bahan pakan sumber energi misalnya dedak padi (bekatul), jagung, sagu, sorghum (cantel), singkong, bungkil kelapa, dan molases.
Bahan pakan sumber protein ialah tepung ikan, bekicot, keong mas,kepala udang. Bahan pakan sumber mineral antara lain kapur, bekicot, kerang laut dan garam dapur. Sumber vitamin yang murah enceng gondok, dan cacing tanah dapat dimanfaatkan untuk itik. Dedak atau bekatul merupakan salah satu bahan pakan itik yang tersedia berlimpah didaerah-daerah pedesaan. Singkong, bekicot dan kepala udang merupakan contoh bahan pakan yang kaya akan gizi.

Masyarakat Mojosari terbiasa membuat sendiri pakan bebek mereka. Kita boleh juga mencontoh cara pembuatan pakan bebek Mojosari kalau ingin membudidayakan jenis bebek peking. Bahan pakan yang dipakai adalah bekatul, tepung jagung, dedak, dan kupang (sejenis keong sawah terdapat di Mojosari). Bahan pakan tersebutlah yang digunakan oleh masyarakat disana.
Cara membuat pakan yaitu dengan mencampur semua bahan hingga merata dan diberi tambahan konsentrat pabrik perbandingan 1 : 3. Dengan keterangan sebagai berikut 1 kg untuk konsentrat dan 3 kg bahan pakan campuran. Dari bahan tersebut dihasilkan sumber pakan bebek peking kadar protein mencapai 20%.Pemberian pakan rutin sehari 2 kali yaitu pada pagi dan sore hari.
Dengan cara perawatan dan pemberian pakan demikian, bebek mendapat protein yang baik, pertumbuhan bebek bisa lebih cepat umur 40 hari berat bebek di Mojosari sudah mencapai 1,5 sampai 2 kg. Panen juga bisa lebih cepat umur 60 hari atau 2 bulan bebek di Mojosari sudah siap panen berat rata rata 3 kg per ekor.
Perkandangan
Lokasi dan lingkungan perkandangan hendaknya terlebih dahulu ditentukan dalam sebelum membuka usaha peternakan. Lokasi yang dipilih dekat pasar, pabrik gilingan padi, jauh dari kebisingan seperti di pegunungan, terlindung pepohonan, dan bambu. Jadi, tempat yang bagus untuk memelihara itik di tempat yang cukup jauh dari suara gaduh dan kendaraan. Selain itu, kandang sebaiknya tidak terlalu dekat dengan tanaman sawah dan pemukiman penduduk.


Syarat Kandang
- Kandang untuk pembesaran menampung 100 ekor bebek umur lebih dari 2 minggu cukup dengan ukuran 4 x 4 meter. Kalau lebih besar juga tidak apa-apa.
- Kandang untuk DOD (day old duck) umur kurang dari 2 minggu, dapat menggunakan kandang kawat ram ukuran 5 x 1 meter dan dilengkapi pemanas buatan.
- Perlu mendapat perhatian khusus perawatan ektra pada DOD usia kurang dari 1 bulan karena resiko kematian tinggi pada masa tersebut yaitu mencapai 10-20%. Setelah bebek usia lebih dari 1 bulan, resiko kematian berkurang jadi 1% saja. Jadi berhati hatilah pada usia dibawah 1 bulan.
Berdasarkan bentuk atapnya, dikenal beberapa bentuk kandang sebagai berikut:
1. Shed Type (tipe satu sisi)
Arah kandang bagian depan menghadap ke timur. Separuh dinding bagian depan dan belakang, yaitu dinding bagian bawah, tertutup rapat. dinding bagian atas berupa alas yang terbuat dari kawat atau bambu. dinding sisi kiri maupun kanan tertutup rapat, kecuali tangga dan pintu di salah satu sisi. Tipe ini rnemungkinkan masuknya sinar matahari secara langsung sehingga akan mengurangi bau amoniak dalam kandang. Tipe Shade ini cocok untuk daerah yang tanah kering.
2. Gable Type (atap dua sisi)
Arah kandang vertikal dari utara ke selatan. Bagian bawah dinding kandang dibuat rapat, sementara bagian atasnya berupa kisi-kisi. Dua sisi dinding yang lain tertutup rapat, kecuali pintu yang berada di salah satu sisi. Tipe ini adalah tipe atap yang cocok untuk kandang itik di daerah bertanah basah dan kelembaban tinggi.
Berdasarkan fungsinya kandang di bagi menjadi beberapa tipe sebagai berikut :
1. Kandang Boks (Kandang DOD, Fase Starter)
Anak-anak itik yang berumur 1 hari – 3 minggu dapat ditempatkan di kandang yang berbentuk boks. Kandang jenis ini terbuat dari papan atau bambu dengan lantai dari kawat kasa (ram ayam) atau dari anyaman bambu dengan jarak anyaman 1-1,5 cm. Dengan jarak sebesar itu, kotoran itik dapat langsung jatuh tanpa membuat kaki itik terperosok. Setiap 1 m2 kandang boks mampu menampung 50 ekor DOD. Arah kandang sebaiknya tepat dari utara ke selatan, sedangkan atapnya miring dengan bagian timur lebih tinggi dibanding bagian barat.
2. Kandang Ren
Kandang ren adalah kandang yang sebagian diberi atap, sebagian lagi dibiarkan terbuka dan hanya dibatasi pagar keliling. Bentuk kandang ini sebaiknya untuk pemeliharaan itik dara dan dewasa. Ruang yang tertutup atap dengan ruang yang terbuka perlu diberi pagar pemisah dan pintu yang dapat di buka serta di tutup. Di dalam bagian beratap, kandang biasanya di sekat-sekat untuk membagi itik berdasarkan kelompok umur. Satu kelompok dapat terdiri dari 100-500 ekor.
Bagian kandang yang beratap di pakai untuk tidur dan bertelur. Itulah sebabnya, pada pembuatan kandang itik, lantai kandang perlu diberi alas sekam, jerami, atau bahan lain yang empuk, tidak mudah padat, hangat, dan dapat mencegah telur pecah.
Bagian kandang yang terbuka merupakan tempat untuk makan, minum. Lantai bagian kandang ini dapat berubah tanah biasa, anyaman bambu, hamparan batu-batu kecil, atau lebih baik berupa plesteran semen. Pada prinsipnya, lantai kandang di bagian kandang yang terbuka harus selalu diupayakan agar tidak becek, mudah dibersihkan dan cepat kering setelah di cuci. Kandang ren mempunyai beberapa kelebihan, diantaranya mudah di bersihkan serta membuat itik sehat dan berbadan kuat karena itik dapat berjalan-jalan dan terkena sinar matahari. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu diingat, yaitu apabila hujan turun, peternak itik harus segera menggiring itik kekandang yang beratap.
3. Kandang Koloni Postal
Kandang jenis ini seluruh bagiannya tertutup rapat dan tak ada ruangan terbuka yang dapat dipakai itik untuk bermain-main. Kandang koloni ditempati itik dalam kelompok umur yang berbeda. Lantai kandang dapat berupa litter, lantai bersemen, atau dari bilah-bilah -bambu.
4. Kandang Baterai
Kandang baterai merupakan kandang yang di buat dengan sekat-sekat dan setiap petak hanya berisi satu ekor itik. Satu petak 14 kandang berukuran 45 cm x 35 cm dengan tinggi 60 cm. Lantai dan dinding petak dapat dibuat dari anyaman bambu atau kawat. Lantai kandang dibuat sedikit miring agar telur yang baru keluar dari induk itik dapat langsung menggelinding ke tempat penampungan di bagian depan atau belakang.
Secara umum, model kandang baterai mempunyai sejumlah kelebihan sebagai berikut :
- Dapat mengurangi suasana bising dari luar kandang. Dalam, suasana yang tenang itik dapat berproduksi lebih tinggi.
- Sifat masing-masing itik dapat dikontrol dengan mudah.
- Telur yang dihasilkan bersih dan terjamin keutuhannya.
- Penyakit mudah dilihat dan penularan penyakit antar itik dapat sedikit dicegah.
Di lain sisi, ada beberapa kelemahan dari penggunaan kandang baterai yaitu sebagai berikut :
- Biaya untuk membuat kandang lebih besar dibandingkan dengan model kandang lain.
- Perawatan itik harus betul-betul dilakukan secara intensif. Selain itu jumlah serta kualitas pakan yang diberikan pada itik harus. benar-benar terjamin.
5. Kandang itik dengan kolam ikan (Mina Itik)
Seperti kandang ayam, kandang itik dapat juga dibuat di atas kolam. Inilah yang dikenal dengan usaha mina itik. Peternak tertarik untuk menerapkan model ini karna ikan yang berada di kolam dapat memanfaatkan sisa makanan dan kotoran itik yang jatuh untuk menambah sumber makanannya.
Di Kalimantan Selatan, khususnya di daerah Hulu Sungai Utara, para peternak itik intensif sudah biasa membuat kandang di atas perairan, tetapi ikan masih berupa ikan liar. Tentu akan Iebih baik bila ikan yang dipelihara di kolam adalah ikan gurame, lele, ikan mas, mujair, nila, gabus, patin.
Kandang Yang Ideal
Kandang yang diarahkan ke timur dengan maksud untuk memberikan kesempatan sinar matahari pagi masuk kedalam kandang, dengan demikian diharapkan ruangan kandang menjadi sehat dan cukup terang. Tinggi kandang dibuat tidak kurang dari 2 meter, sehingga peternak tidak perlu membunkukkan badan pada saat melakukan pekerjaan di dalam kandang. Dingding kandang sebaiknya ditutup tembok/bambu setinggi 60 cm dari lantai. Sedangkan sisanya dibiarkan terbuka cukup ditutup dengan kawat atau bilah-bilah bamboo.
Hal lain yang menjadi penentu ideal tidaknya kandang yang kita dirikan yaitu luasan kandang yang serta daya tampungnya. Sebagai patokan tiap satu meter persegi kandang bisa didiami dengan 4 ekor itik dewasa (umur > 6 bulan) dengan rumus sebagai berikut:
Luas kandang yang diperlukan (M2) = Jumlah Itik yang dipelihara/4
Atau
Jumlah itik yang dipelihara = Panjang kandang (m) x lebar (m) x 4
Perkawinan
Membibitkan itik Mojosari sendiri tentu tidak mudah dijalankan oleh mereka yang sebelumnya tidak pernah beternak itik. Karena itu, membibitkan itik petelur biasanya dilakukan oleh mereka yang telah berpengalaman beternak itik. Bahkan, pembibitan itik petelur sudah menjadi segmen usaha tersendiri karena prospek usahanya sudah sangat jelas. Lamanya waktu hingga itik berproduksi jika membibitkan sendiri membuat banyak peternak itik petelur tidak melakukan pembibitan itik. Pembibitan itik petelur biasanya dijalankan oleh mereka yang fokus pada usaha pembibitan itik.
Itik Mojosari merupakan persilangan antara itik Jawa yang berasal dari Jawa dengan itik liar/mallard di Desa Modopuro,Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Sekarang untuk mengawinkan agar mendapatkan anak itik mojosari maka dilakukan perkawinan sesama itik mojosari. biasanya rasio jantan dan betina yang efektif yaitu 1 : 4.


Telur tetas adalah telur yang berasal dari induk itik yang sudah terbuahi.
Ciri telur tetas yang baik :
- Telur tidak terlalu bulat atau lonjong.
- Kulit telur tidak terlalu tebal atau tipis.
- Berat rata-rata 65 gr/ekor.
- Bila dilakukan peneropongan, terdapat bulatan hitam sebesar biji kopi.
Produk
Panen
Hasil utama usaha ternak itik petelur adalah telur itik dan hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran ternak sebagai pupuk tanaman.
Menurut Supriyadi (2002) itik Mojosari mampu menghasilkan telur sebanyak 230-250 butir/ekor/tahun. Kualitas telur yang dihasilkan cukup baik dilihat dari ukuran, warna kuning telur, tebal cangkang dan kekentalan putih telurnya. Berat telurnya rata-rata sekitar 60-65 gram per butir (Prasetyo dkk., 2006).
Telur itik terdiri dari sel reproduktif, dimana sel reproduktif pada itik dikelilingi oleh kuning telur (yolk), albumen, membran kerabang, kerabang dan kutikula. Ovarium bertanggung jawab terhadap pembentukan kuning telur sedangkan bagian telur lainnya berasal dari oviduk. Ovarium yang aktif akan memulai mengahsilkan homon estrogen, progesteron dan testoteron (sex steroid) (Suprijatna dkk., 2005). Kuning telur pertama menjadi dewasa karena Sebagian besar bahan kuning telur yang diproduksi di hati dialirkan oleh darah langsung ke kuning telur dan dibawah kontrol hormon estrogen (Yuwanta, 2010). Yolk tersusun dari lemak dan protein yang bergabung dan membentuk lipoptotein,
Penyusun utama kuning telur adalah asam lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral mikro maupun makro yang terakumulasi sebagai akibat dari proses vitelogeni. Vitelogeni merupakan proses akumulasi asam lemak yang disintesis di hati dengan bantuan hormon estrogen yang kemudian dibawa ke ovarium melalui pembuluh darah (Yuwanta, 2010).


Pasca panen
Kegiatan pasca panen yang biasa di lakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama di banding jika tidak di lakukan pengawetan. Telur yang tidak di berikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk.
Adapun perlakuan pengawetan telur itik terdiri dari 5 macam yaitu :
a. Pengawetan dengan air hangat
Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
b. Pengawetan telur dengan daun jambu biji
Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah di rendam akan berubah warna menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
c. Pengawetan telur dengan minyak kelapa
Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna kulit telur dan rasanya tidak akan berubah.
d. Pengawetan telur dengan natrium silikat
Bahan pengawet natrium silikat merupakan cairan kental, tidak berwarna, jernih dan tidak berbau. Natrium silikat dapat menutupi pori kulit telur, sehingga telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan merendam telur dalam larutan natrium silikat 10 % selama satu bulan.
e. Pengawetan telur dengan garam dapur
Telur di rendam dalam larutan garam dapur (NaCI) dengan konsentrasi 25-40 % selama 3 minggu. Setelah itu, telur di letakkan di rak telur. Dengan cara pengawetan ini, telur dapat bertahan sampai 8 minggu dan warna kuning telur bertambah pekat (Sandhy, 1998).
Hama dan Penyakit
Secara sederhana, penyebab penyakit di klarifikasikan menjadi dua bagian sebagai berikut :
- Penyebab penyakit yang sebenarnya (actual cause) dalam bentuk mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan protozoa.
- Penyakit yang di sebabkan oleh prefesiensi zat makanan dan tata laksana perkandangan yang kuran tepat.
Berikut ini beberapa penyakit yang biasa menyerang itik berikut penanggulangannya :
a. Duck cholera
Penyebab : bakteri Pasteurela avicida. Gejala. mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
Pengendalian : sanitasi kandang, pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat daging dada dengan dosis sesuai label obat.
b. Salmonellosis
Penyebab : bakteri typhimuriu. Gejala : pernafasan sesak, mencret.
Pengendalian : sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui pakan dengan konsentrasi 0,04 % atau dengan sulfadimidin yang di campur air minum, dosis di sesuaikan dengan label obat. (Muhrizal, 2008).
Daftar Pustaka
Anggorodi. 1979. Ilmu Makanan Ternak umum. P.T. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
BPTP Jakarta, 2001, Keunggulan Itik Mojosari Sebagai Itik Petelur. Jakarta.
IP2TP. 2000. Penyusunan Ransum untuk Itik Petelur, Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta: Penebar Swadaya.
KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 2837/Kpts/LB.430/8/2012 TENTANG PENETAPAN RUMPUN ITIK MOJOSARI
Ketaren, P. P. 2001. Mutu pakan ternak. Bebek Mania, Edisi 06 juni 2001. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Ketaren, P.P. dan l.H. Prasetyo. 1999. Pengaruh pemberian pakan terbatas terhadap penampilan itik silang Mojosari X Alabio (MA) umur 8 minggu. Lokakarya Nasional Unggas Air. Balai Penelitian Ternak, Ciawi, Bogor.
Latifa, R. 2007. Upaya Peningkatan Kualitas Telur Itik Afkir dengan Hormon Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin (PMSG). Jurnal 4(1). Universitas Muhammadiyah Malang.
Martawijaya, E. I., E. Maranto dan N. Tinaprilla. 2004. Panduan Beternak Itik Petelur Secara Intensif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Prasetyo, L. H. 2006. Sistem Pemeliharaan Itik Petelur MA. http://www.litbang.deptan.go.id Diakses Mei 2017.
Prasetyo, L. H., B. Brahmantiyo dan B. Wibowo. 2003. Produksi telur persilangan itik Mojosari dan Alabio sebagai bibit niaga unggulan itik petelur. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Prasetyo, L., Ketaren, P., dan Setioko, A. 2010. Panduan Budidaya dan Usaha Ternak Itik. Bogor: Balai Penelitian Ternak.
Scott,M.L, Mc.Nesheim and R.J.Young.1982. Nutrition of Chicken. 3rd ed. MC.Scoff and Association. Ithaca.New York..
Suharno, B dan Khairul, A. 2007. Beternak Itik Secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suharno, B. 2010. Beternak Itik Secara Intensif. Jakarta: Penebar Swadaya. Suharno, B., dan Setiawan, T. 1999. Beternak Itik Petelur di Kandang Baterei.
Suprijatna, Endjeng, Atmomarsono dan Umiyati. 2008. Ilmu Dasar Ternak Unggas.
Supriyadi. 2009. Panduan Lengkap Itik. Jakarta: Penebar Swadaya.
Susilorini, T. E., dan Sawitri. 2010. Budidaya 22 Ternak Potensial. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Yogyakarta: Kanisius.
Yuwanta, T. 2010. Pemanfaatan Kerabang Telur. Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan Fakultas Peternakan. Yogyakrta: Universitas Gadjah Mada.
“Hey, this is a farm not a factory. it’s not with robot”
bukanrobot.home.blog